Selama ini, lanjutnya, petani sawit sering kali berada pada posisi yang rentan di tengah pusaran regulasi global, fluktuasi harga, dan standar keberlanjutan yang kadang tidak sepenuhnya berpihak pada realitas di lapangan.
“Namun, hari ini kita membuktikan bahwa petani sawit bukanlah objek. Kita adalah bagian utama. Kita adalah tulang punggung rantai pasok minyak sawit dunia. Dengan bersatunya perwakilan dari Indonesia, Malaysia, Nigeria, Ghana, Honduras, Pantai Gading, dan Thailand, kita mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa petani sawit global kini telah bangkit dan Bersatu,” ujarnya.
Ketua Panitia Pelaksana IOPS Forum 2026, Dr. (cn) Djono A. Burhan, S.Kom, MMgt (Int. Bus), CC, CL, juga menegaskan bahwa forum ini merupakan momentum untuk memperkuat kerja sama dan aliansi petani sawit dunia.
Sebab, kata dia, IOPS Forum 2026 dihadiri petani sawit dari Aceh hingga Papua, termasuk ketua dan perwakilan DPW APKASINDO dari 25 provinsi. Delegasi mancanegara berasal dari Malaysia, Ghana, Nigeria, Honduras, Thailand, dan Pantai Gading.
Salah satu agenda penting forum ini, kata Djono penyusunan dan penandatanganan Joint Statement petani sawit internasional.
Pernyataan bersama tersebut diharapkan memperkuat posisi petani dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari harga, infrastruktur hingga regulasi internasional.
Rangkaian IOPS Forum 2026 yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut dilanjutkan dengan kunjungan lapangan pada hari kedua dan agenda rekapitulasi pada hari ketiga.
Djono berharap seluruh rangkaian forum menjadi langkah awal untuk memperkuat persatuan dan kolaborasi petani sawit dunia.
IOPS 2026 Resmi Dibuka, Ratusan Petani Negara Produsen Sawit Berkumpul di IKN
Diskusi pembaca untuk berita ini