Berita / Nusantara /
Integrasi Sawit-Sapi Bisa Hindari Konflik Perusahaan dengan Masyarakat
Webinar integrasi sapi-kelapa sawit dengan tema: Tantangan Ekspansi SISKA di Indonesia. (Tangkapan layar)
Jakarta, elaeis.co - Integrasi sapi dan kelapa sawit ternyata punya banyak manfaat positif. Bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi perusahaan perkebunan.
Hero Setiawan, Praktisi Industri Sawit dan merupakan Pengurus GAPKI Kalimantan Selatan, menyampaikan bahwa integrasi sawit-sapi ini bisa dimanfaatkan oleh para perusahaan sebagai salah satu bentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka.
"Ada banyak manfaat manfaat dan keuntungan yang bisa diambil dari integrasi sawit-sapi ini. Pertama ini bisa menjadi salah satu bentuk CSR bagi perusahaan untuk masyarakat yang ada di sekitar," kata Hero dalam webinar integrasi sapi-kelapa sawit dengan tema Tantangan Ekspansi SISKA di Indonesia, Selasa kemarin.
Menurutnya, dengan demikian akan banyak pihak yang diuntungkan, baik perusahaan maupun masyarakat di sekitarnya. Hal ini, kata Hero, diyakini akan dapat mengurangi konflik yang kerap terjadi antara perusahaan dan masyarakat.
"CSR ini dipastikan bisa mengurangi konflik sosial. Terkait dengan program CSR, harapannya jika kita membangun kerjasama dengan masyarakat, mereka juga yang akan menjadi benteng untuk menjaga keberlanjutan kebun itu sendiri," ujarnya.
Menurut Hero, integrasi sawit-sapi ini juga akan dapat meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan perusahaan. "Karena selain kebun sawit, juga hasilnya ada daging. Dan bahkan integrasi ini meningkatkan produksi kebun sawit hingga 20 sampai 30 persen," ujarnya.
Bahkan, kata Hero, biaya perawatan kebun juga bisa ditekan dengan adanya peternakan sapi yang dilepaskan di perkebunan sawit itu. Lantaran sawit akan mendapat tambahan pupuk dari kotoran sapi.
"Jadi memang bisa mengurangi ketergantungan kimia. Karena terjadi simbiosis mutualisme antara sapi dan kebun sawit. Sapi mendapatkan makanannya dan sawit mendapat pupuk alaminya," terangnya.
Bahkan yang tak kalah penting, integrasi sawit-sapi ini bisa dijadikan salah satu solusi bagi perusahaan yang belum sanggup memenuhi untuk memberikan 20 persen perkebunannya kepada masyarakat tempatan dalam bentuk kemitraan.
"Ini bisa menjadi acuan temen-temen perusahaan, bahwa dalam UUCK Nomor 11, untuk memfasilitasi kebun masyarakat sebesar 20 persen. Pada pasal 4 dimungkinkan bentuk kemitraan lain. Jika fasilitasi kebun tidak bisa dilakukan. Ini (integrasi sawit-sapi) bisa menjadi ruang untuk bisa menjadikan insentif bagi masyarakat," pungkasnya.







Komentar Via Facebook :