https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Bisnis /

Hadapi Tekanan Global, Astra Agro Gaspol Replanting dan Efisiensi

Hadapi Tekanan Global, Astra Agro Gaspol Replanting dan Efisiensi

Presdir Astra Agro Lestari Tbk. Djap Tet Fa (tengah) saat Public Expose 2026 di Menara Astra, Jakarta, Rabu, 15 April. Foto: Taufik Alwie


Jakarta, elaeis.co – PT Astra Agro Lestari Tbk. menegaskan kesiapannya menghadapi tantangan ganda di industri kelapa sawit tahun ini, mulai dari tren penurunan produktivitas akibat tanaman tua, hingga eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas energi global. Strategi menyangkut kesiapan ini dipaparkan jajaran direksi dalam gelaran Public Expose 2026 di Menara Astra, Jakarta, Rabu, 15 April 2026.

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, mengakui bahwa tantangan struktural utama saat ini adalah stagnasi produksi akibat usia rata-rata tanaman yang menua. Menjawab persoalan tersebut, emiten berkode saham AALI ini telah menetapkan akselerasi replanting atau peremajaan tanaman sebagai prioritas utama.

“Industri sawit bukan bicara jangka pendek, tapi jangka panjang. Sejak 2015, kami telah meremajakan sekitar 40% dari total area tertanam kami, dan hasilnya terlihat pada produktivitas yang jauh lebih baik,” ujar Djap.

Pada 2025, Perseroan telah melakukan replanting seluas 5.080 hektare. Tahun 2026, target ditingkatkan menjadi minimal 6.000 hektare, dengan ambisi mencapai 8.000 hektare atau sekitar 4% dari total area tanam.

Untuk mendukung langkah ini, Astra Agro mengalokasikan 63,8% dari total belanja modal (Capex) tahun 2026 sebesar Rp1,4 triliun khusus untuk kebutuhan perkebunan. Langkah ini diperkuat dengan penggunaan bibit unggul hasil riset internal, termasuk varietas yang lebih tahan terhadap penyakit Ganoderma. 

Benteng efisiensi di tengah gejolak Selat Hormuz

Bagi Astra Agro, ketidakpastian global—baik dari konflik geopolitik, fluktuasi energi, maupun gangguan rantai pasok—akan terus menjadi bagian dari dinamika industri. Namun strategi yang diambil tetap konsisten: meningkatkan produktivitas, menekan biaya, dan menjaga keberlanjutan.

Memang, tantangan tak hanya datang dari dalam kebun, tapi juga dari kancah global. Konflik di Timur Tengah yang memanas dan berujung pada ancaman penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga energi dunia. Djap memaparkan, dampak nyata yang dirasakan adalah melambungnya harga solar non-subsidi hingga hampir 90%, menyentuh angka Rp24.000–Rp25.000 per liter.

“Harga CPO memang ikut terkerek naik seiring lonjakan harga minyak nabati lain dan energi global, namun kenaikan biaya operasional dan logistik menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari,” jelasnya.

Menghadapi volatilitas ini, Astra agro menerapkan disiplin ketat dalam pengendalian biaya operasional (cost management). Inovasi teknologi seperti Mill Grader berbasis AI untuk standarisasi kualitas TBS serta penggunaan drone untuk pemupukan dan penyerbukan buatan di daerah terpencil, menjadi tumpuan untuk meningkatkan efisiensi di seluruh lini.

Di tengah tekanan biaya energi, Perseroan memperkuat inisiatif keberlanjutan. Salah satu langkah strategisnya adalah konversi limbah POME (Palm Oil Mill Effluent) menjadi biogas melalui fasilitas methane capture. Teknologi ini mampu menangkap gas metana—yang 25 kali lebih merusak dibanding CO2—untuk dijadikan bahan bakar boiler, sehingga menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Perusahaan juga memanfaatkan cangkang, fiber dan tandan kosong sebagai bahan bakar alternatif.

Melalui kombinasi akselerasi peremajaan lahan, efisiensi berbasis teknologi, dan komitmen pada praktik bisnis berkelanjutan (NDPE: No Deforestation, No Peat, No Exploitation), Astra Agro optimistis dapat menjaga daya saing di tengah ketidakpastian pasar komoditas global tahun ini.

Kinerja tumbuh positif

Pada bagian lain, Djap Tet Fa memaparkan kinerja perusahaan yang positif selama 2025 berkat optimalisasi praktik agronomi serta pengendalian biaya di seluruh lini. Alhasil, Perseroan mampu membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun atau naik 28,2% year-on-year (yoy). Ia mengakui, kinerja positif ini adalah juga berkat support dan sinergi para pemangku kepentingan yang telah bekerjasama dengan Astra Agro. 

Tahun 2025, Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 31% menjadi Rp28,7 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp21,8 triliun. Peningkatan volume produksi berkontribusi terhadap kenaikan pendapatan Perseroan, yang didorong oleh naiknya produksi CPO sebesar 6% YoY menjadi 1,2 juta ton serta produksi kernel sebesar 8% YoY menjadi 252 ribu ton. Adapun volume penjualan CPO dan turunannya naik 13% menjadi 1,8 juta ton.

Penguatan performa Perseroan juga disebabkan oleh faktor pasokan dan permintaan yang menjadi katalis utama sektor komoditas. Ketatnya pasokan CPO telah mendorong harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) sebesar 11% yoy dari Rp12.883 per kilogram menjadi Rp14.316 per kilogram pada 2025.

Direktur Astra Agro Tingning Sukowignjo menambahkan, Perseroan senantiasa berupaya mengendalikan biaya dan beban pengeluaran secara disiplin. Dengan begitu, Perseroan mampu mengoptimalkan kinerja di tengah volatilitas harga komoditas.

"Perseroan selalu berupaya mengakselerasi kinerja dengan optimalisasi praktik agronomi presisi berbasis bibit unggul dan pengendalian biaya dan belanja perusahaan serta peningkatan efisiensi operasional. Strategi ini kami tujukan untuk menjaga daya saing biaya produksi dalam mengantisipasi volatilitas harga CPO," ucapnya.

Terkait pembagian dividen, Tingning mengungkapkan bahwa kinerja positif sepanjang 2025 memungkinkan Perseroan untuk memberikan apresiasi kepada pemegang saham.

“Kami memutuskan untuk membagikan total dividen sebesar Rp 881,5 miliar atau Rp458 per lembar saham, atau setara dengan 60% dari laba bersih 2025,” ujarTingning. Keputusan ini diambil seiring dengan posisi arus kas (cash flow) Perseroan yang dinilai sangat kuat.-

 

 

 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :