https://www.elaeis.co

Berita / Bisnis /

Dihantam Sentimen Negatif, CPO Lesu di Pasar Global, Saham Sawit Jalan di Tempat

Dihantam Sentimen Negatif, CPO Lesu di Pasar Global, Saham Sawit Jalan di Tempat


Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melemah di pasar global jelang libur panjang akhir pekan (long weekend), Kamis (15/1). 

Ini terjadi di tengah pergerakan harga komoditas dunia yang cenderung bervariasi, saat komoditas tambang seperti nikel, emas, dan batu bara justru mencatat penguatan. 

Baca Juga: Malaysia Turunkan Harga Referensi CPO Februari 2026 ke RM 3.846,84, Bagaimana dengan Indonesia?

Tekanan pada harga CPO datang dari kombinasi sentimen global dan kebijakan domestik. Di pasar internasional, harga CPO bergerak lesu seiring belum seimbangnya permintaan dan suplai global. 

Sementara di dalam negeri, pasar mencermati arah kebijakan biodiesel serta rencana kenaikan pungutan ekspor yang dinilai berpotensi menekan margin pelaku usaha.

Dari sisi kebijakan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan program mandatori biodiesel tetap menggunakan campuran B40 sepanjang 2026, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Opsi peningkatan ke B50 masih terus dikaji dan belum akan diterapkan dalam waktu dekat.

“Jadi tahun ini, arahan Pak Presiden tetap B40. Untuk B50, kajian harus dilakukan terus-menerus,” kata Airlangga, dikutip dari Antara, Kamis (15/1).

Airlangga menjelaskan, penerapan B50 membutuhkan perhitungan matang, terutama terkait selisih harga antara fuel oil, bahan bakar minyak (BBM), serta harga kelapa sawit di pasar domestik dan internasional. 

Dengan kondisi harga minyak mentah global yang relatif rendah, sekitar US$ 60 per barel, pemerintah dinilai masih memiliki insentif untuk mengandalkan impor crude oil dibanding memperluas subsidi biodiesel.

Di sisi lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mengumumkan rencana pemerintah menaikkan pungutan ekspor CPO dari 10% menjadi 12,5% mulai Maret 2026. Pungutan ekspor untuk produk turunan kelapa sawit lainnya juga akan dinaikkan sebesar 2,5 poin persentase.

Kebijakan ini bertujuan memperkuat pendanaan program biodiesel agar tetap berkelanjutan. Namun, bagi pasar, rencana kenaikan pungutan tersebut menjadi sentimen tambahan yang menekan harga CPO dan prospek emiten sawit, terutama dalam jangka pendek.

Dampaknya terlihat di pasar saham. Emiten sektor perkebunan sawit bergerak terbatas dan cenderung bervariasi tanpa arah yang jelas pada perdagangan Kamis sore. 

Hingga pukul 15.00 WIB, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tercatat turun 0,64% atau 50 poin ke level 7.725. Saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) justru naik 1,27% atau 15 poin ke level 1.195.

Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menguat tipis 0,34% atau 5 poin ke level 1.475. Di sisi lain, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) turun 0,34% atau 5 poin ke level 1.445, dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) naik tipis 0,33% atau 5 poin ke level 1.535.

Pergerakan saham yang cenderung “jalan di tempat” ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan sawit ke depan. Meski konsumsi minyak sawit untuk biodiesel di Indonesia diperkirakan masih meningkat pada 2026, laju pertumbuhannya dinilai tertahan dengan dipertahankannya B40.

Dalam riset Stockbit Sekuritas, keputusan pemerintah mempertahankan B40 dinilai sebagai langkah yang realistis. 

Menurut analis, selisih harga CPO dan minyak mentah yang semakin melebar berpotensi memberi tekanan pada dana sawit jika tingkat pencampuran biodiesel terus dinaikkan.

“Kami menilai keputusan pemerintah untuk mempertahankan tingkat pencampuran sebagai keputusan yang masuk akal, mengingat melebarnya gap antara harga CPO dan harga minyak mentah akan memberikan tekanan pada dana sawit untuk subsidi biodiesel,” tulis Stockbit Sekuritas.

Ke depan, investor juga diminta mencermati faktor suplai global, termasuk perubahan stok CPO Malaysia serta potensi tambahan pasokan dari lahan sawit sitaan di dalam negeri. 

Selama sentimen negatif masih membayangi, harga CPO diperkirakan bergerak hati-hati, dan saham-saham sawit pun berpotensi terus melaju pelan, mengikuti irama pasar yang belum menemukan nada optimistisnya.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :