https://www.elaeis.co

Berita / Sumatera /

Datangi Ditjen PKH, Sumatera Barat Lirik Integrasi Sapi Sawit

Datangi Ditjen PKH, Sumatera Barat Lirik Integrasi Sapi Sawit

Provinsi Sumatera Barat menaruh perhatian yang cukup kuat terhadap pengembangan inetgraai sapi dan sawit. (Foto: Ditjen PKH Kementan)


Jakarta, elaeis.co - Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) saat ini sedang melirik potensi dan keuntungan dari penerapan sistem integrasi peternakan sapi dan perkebunan kelapa sawit (SISKA).

Keseriusan itu ditunjukan dengan kunjungan terpisah yang dilakukan oleh Gubernur Mahyeldi serta delegasi Tim Ahli DPRD Sumbar ke Kementerian Pertanian (Kementan) beberapa waktu yang lalu.

Dari keterangan resmi yang diperoleh elaeis.co, Rabu (22/5/2024), terungkap walaupun terpisah, tetapi kunjungan Gubernur dan Tim Ahli DPRD Sumbar tersebut dilakukan dalam waktu yang berdekatan.

Baca Juga: Melalui Program SISKA, Petani Sawit Bisa Dua Kali Bergelar Pahlawan Devisa

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, diketahui menemui para pejabat dari dua Direktorat Jenderal (Ditjen) di Kementan, yaitu Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dan Ditjen Perkebunan.

Mahyeldi berharap agar pemerintah pusat dapat memberikan dukungan penuh dalam mendorong sektor peternakan dan perkebunan di wilayah Sumatera Barat. 

"Sumbar memiliki beberapa daerah yang punya lahan sawit yang luas. Ini cocok untuk dikembangkan menjadi sistem integrasi sapi dan kelapa sawit," ucap Gubernur Mahyeldi. 

Ia berharap SISKA mampu menggerakan perekonomian  masyarakat Sumbar, termasuk di tingkat pedesaan.

Baca Juga: Petani Sawit Ikut Andil Kurangi Impor Sapi

Sekretaris Ditjen PKH, Makmun, menyambut baik hal itu dan bilang SISKA menjadi salah satu program Pemerintah Pusat dalam memanfaatkan potensi tanaman kelapa sawit.

"Terutama dijadikan sebagai sumber pakan bagi terbak sapi dan keberadaan lahan sawit bisa dijadikan sebagai lahan penggembalaan terbak sapi," ucap Makmun.

Menurut Makmun, SISKA melibatkan pendekatan ekonomi berkelanjutan  dalam pengembangan peternakan dan perkebunan, sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.

"Di sisi lain, limbah peternakan sapi seperti feses dan urin merupakan sumber nutrisi yang baik untuk tanaman sawit," kata Makmun. 

"Dengan menggembalakan sapi di antara tanaman sawit, limbah organik yang dihasikkan dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk kimia" tambah Makmun.

Direktur Pakan, Nur Saptahidhayat, menjabarkan beragam manfaat lainnya yang dapat dirasakan oleh industri peternakan dan sawit, masyarakat setempat, dan lingkungan dengan keberadaan sapi di kebun sawit.

Sementara itu dalam kunjungan Tim Ahli DPRD Sumbar mengaku mencemaskan perkembangan sapi khas Sumbar, yaitu sapi Pesisir, yang belakangan ini mengalani penurunan produksi.

James Hellyward selaku perwakilan dari Tim Ahli mengaku khawatir penurunan produksi sapi Pesisir bisa menganggu pasokan daging untuk kuliner rendang yang merupakan makanan khas Sumbar.

"Rendang berbahan daging sapi. Rendang telah menjadi makanan ikonik yang terkenal di seluruh pelosok nusantara, bahkan dunia internasional sekalipun," ujar James Hellyward.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir pengembangan sapi Pesisir mengalami kemunduran, yang  tercermin dari penurunan populasi dan produktivitas.

"Semua itu terjadi akibat minimnya daya dukung lingkungan dan daya saing sapi Pesisir yang rendah terhadap sapi impor," ungkap James Hellyward.

Di sisi lain, ia mengatakan padang penggembalaan yang terbatas juga mengakibatkan penyediaan rumput tidak mencukupi, sehingga berpengaruh terhadap konsumsi dan pertambahan bobot badan. 

Oleh karena itu, James menilai perlunya upaya serius untuk melestarikan plasma nutfah sapi Pesisir agar terhindar dari kepunahan.

Direktur Pakan, Nur Saptahidhayat, dalam kesempatan itu menyodorkan SISKA kepada pihak Tim Ahli DPRD Sumbar.

Kata dia, SISKA diyakini dapat mengoptimalkan penggunaan lahan penggembalaan dan meningkatkan produktivitas dalam sektor pertanian dan peternakan.

"Dengan menggabungkan peternakan sapi dan perkebunan kelapa sawit, lahan dapat digunakan secara lebih efisien," ucap Nur Saptahidhayat.

"Sapi dapat merumput di antara barisan pohon sawit, memanfaatkan area yang sebelumnya tidak digunakan secara optimal," ujarnya lagi.

Nur Saptahidhayat menambahkan, bahwa daun dan batang kelapa sawit yang tidak digunakan dapat menjadi sumber pakan sapi. 

Menurutnya, hal ini akan mengurangi biaya untuk pembelian pakan, membantu peternak mengurangi biaya operasional. 

Selain itu, penggunaan daun dan batang kelapa sawit sebagai pakan sapi juga membuka peluang baru dalam diversifikasi pendapatan bagi peternak kelapa sawit. 

Hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi peternak, meningkatkan daya saing usaha pertanian, dan merangsang pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.

Sebagai informasi, sapi Pesisir merupakan sapi lokal asli Sumbar  yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengonversi pakan berkualitas rendah menjadi daging. 

Sifat-sifat unggul sapi Pesisir tersebut telah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :