Sumatera 

Bencana! TBS Petani Cuma Dihargai Rp 450/Kg

Bencana! TBS Petani Cuma Dihargai Rp 450/Kg
Hasil panen petani sawit di Jambi dikumpulkan sebelum dijual ke pengepul. Foto: Ist.

Muaro Tebo, elaeis.co - Usai menjual hasil panen sawit, Yatno justru lemas. Petani kelapa sawit di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi ini tak menyangka harga tandan buah segar (TBS) sawit saat ini seolah tak bernilai apa-apa.

“Harga yang kami terima siang tadi cuma Rp 450/kg, harga di loading ramp Rp 600/kg. Gila ini, upah panen sama angkut saja sudah Rp 200-an. Berarti yang Rp 450 itu bagi dualah sama yang panen,” katanya kepada elaeis.co, Rabu (22/06) malam.

Menurutnya, sehari sebelumnya harga di tingkat petani masih Rp 600/kg. “Betul-betul kaget mendengar harga masih turun lagi,” ucapnya.

Dia mengaku saat ini pusing tujuh keliling karena tiga bulan lalu mengambil kredit ke bank. 

“Kemarin kan waktu pinjam harga masih di atas Rp 2.000/kg. Kami ambil kredit buat beli kebun lagi. Eh, malah harga kok begini. Gak tahu nanti bayar cicilannya pakai apa,” tukasnya.

“Jangankan memikirkan pupuk, bisa makan aja sudah syukur sekarang. Kami minta tolonglah, bagaimana caranya supaya harga jangan keterlaluan begini. Pemerintah dan semua pihak yang bisa, bantulah kami petani kecil ini,” tambahnya.

Staf Yayasan Setara Jambi, Riki, yang sedang mendampingi kelompok tani dalam proses sertifikasi RSPO, sangat prihatin melihat kondisi petani di Sungai Jernih.

“Harga di tingkat petani sudah lampu merah, kritis. Semua pihak harus turun untuk menuntaskan masalah ini. Telusuri akar masalahnya di mana. Apa ada pemain di balik penjualan CPO, apa ada macet di regulasi, ataukah di pabrik-pabriknya. Bagian hilirnya harus disusuri, mana yang jadi biang kerok. Kasihan petani,” ujarnya.

 

Editor: Rizal