Namun demikian, Rossanto memperkirakan, perekonomian sejumlah negara di Asia Pasifik bakal tumbuh positif dengan inflasi yang masih terkendali. CPO dan Batubara masih menjadi komoditas yang mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ketika harga komoditas terdampak, surplus perdagangan hingga lapangan kerja yang meningkat karena serapan disektor pertambangan dan perkebunan, bisa kembali menurun.
Rossanto juga menyarankan, agar Indonesia bisa kembali ke posisinya semula perlu melakukan diversifikasi pasar ke Uni Eropa. Saat ini, China, Pakistan dan India merupakan pasar terbesar CPO Indonesia.
Namun akibat banyaknya kebijakan yang tumpang tindih membuat harga CPO dan target pengiriman sulit diterapkan. Karena itu, pemerintah Indonesia perlu berjuang habis-habisan di WTO agar CPO bisa masuk ke Eropa.
Pasar Eropa, meski tidak besar, namun menjadi indikator perdagangan dunia. Upaya lain yang perlu dilakukan adalah mendorong peningkatan daya saing komoditas CPO melalui sertifikasi internasional.
Antisipasi Resesi, Ekonom Sarankan Regulasi pro Komoditas Ekspor
Diskusi pembaca untuk berita ini