Jakarta, elaeis.co – Eksportir minyak sawit Indonesia mulai merasakan dampak langsung dari ketegangan di Timur Tengah. Lonjakan biaya logistik hingga 50 persen dan premi asuransi pengiriman membuat aktivitas ekspor menjadi semakin berat.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menjelaskan bahwa meski biaya melonjak, industri sawit masih mampu menjalankan ekspor untuk memenuhi kontrak yang telah disepakati dengan pembeli di berbagai negara.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Memanas, Sawit Jadi Tameng Energi Indonesia
“Dengan perang ini, kondisi global seperti sekarang, kita bersyukur sawit masih jalan. Ekspor tetap berjalan walaupun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa,” ujarnya di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3).
Eddy merinci kenaikan biaya logistik menjadi dampak paling terasa bagi eksportir. Tarif transportasi dan premi asuransi pengiriman meningkat seiring naiknya risiko di jalur perdagangan internasional.
“Naiknya sekitar 50 persen untuk biaya transportasi dan insurance,” tambahnya.
Lonjakan biaya ini mulai memengaruhi perilaku pembeli global. Sebagian importir menunda kontrak baru, meski pengiriman untuk kontrak lama tetap berjalan. Eddy mencatat adanya indikasi penurunan permintaan, namun eksportir tetap memenuhi kewajiban pengiriman sesuai kontrak yang telah ditandatangani.
Pengiriman sawit ke pasar besar seperti India, China, dan Amerika Serikat masih berlangsung meski biaya logistik meningkat. Namun, gangguan lebih terasa di kawasan Timur Tengah. Jalur pelayaran terkait Selat Hormuz sempat menghambat pengiriman ke beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab dan Iran.
“Kalau yang sudah pasti sulit itu yang melewati Selat Hormuz. Untuk sementara pengiriman berhenti, seperti ke Uni Emirat Arab dan Iran,” jelas Eddy.
Eddy menilai dampak konflik terhadap ekspor sawit masih bersifat awal karena ketegangan baru terjadi dalam waktu singkat. Gambaran yang lebih jelas akan terlihat setelah data perdagangan Maret dihimpun.
Di tengah tekanan global, peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) menjadi kunci menopang program biodiesel nasional. Produksi sawit Indonesia pada 2025 tercatat meningkat, dengan CPO diperkirakan mencapai sekitar 51 juta ton, sedangkan total produksi bersama palm kernel oil (PKO) sekitar 56 juta ton.
Eddy menekankan, peningkatan produksi ini didorong mulai berbuahnya tanaman hasil peremajaan perusahaan sawit. Meski demikian, produksi sawit rakyat masih menghadapi hambatan karena petani enggan menebang pohon sawit tua akibat takut kehilangan pendapatan selama masa tanam ulang.
“Tanaman sawit generasi baru sebenarnya bisa mulai berproduksi sekitar dua setengah tahun setelah ditanam. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi supaya ekspor tetap jalan, untuk energi juga jalan,” ujarnya.
Industri sawit Indonesia pun berharap adanya solusi untuk membantu petani selama masa tunggu tanaman baru mulai menghasilkan, termasuk jaminan pendapatan sementara atau pola tanam tumpang sari.
Dengan biaya logistik yang melejit hingga 50 persen, eksportir sawit menghadapi tantangan besar. Meski begitu, komitmen untuk menjaga ekspor tetap berjalan menjadi fokus utama agar pasar global tetap terlayani dan program biodiesel nasional dapat terus didukung.
Akibat Perang Timur Tengah, Eksportir Sawit RI Tercekik, Biaya Logistik Melejit 50
Diskusi pembaca untuk berita ini