Pada usia senja 96 tahun, Ratu mangkat untuk selamanya. Persaksian paling lekas merespon tentulah adik asuh selama beratus tahun. Sejumlah mantan Presiden Amerika memberi ucapan duka mendalam dengan segala puja dan puji, sampai kesan rasa humoris yang dimiliki sang Ratu ketika bersua dalam persuaan formal kerajaan. Belum nampak ucapan dari Rusia yang tengah bertengkar dengan Unkraina.

Perdana Menteri yang juga bernama Elizabeth (Liz) Truss dalam lelehan cuap duka, secara khusus memberi catatan “the monarch was the rock on wich modern Britain was built, who had “provided us with the stability and strength that we need”... seraya meneropong (doa kuat) ke masa depan di bawah tahta Raja Baru (King Charles III); “We offer him our loyalty and devotion... we usher in a new era in the magnificient history of our great country, exactly as Her Majesty would have wished, by saying the words ‘God save the King’.

Di negara +62, kita masih bersetegang mengenai kenaikan harga bahan bakar yang tak terkendali. Demonstrasi meledak dan meleleh saban waktu. Harga komoditas mulai merangkak, carut marut demokrasi sudah dipermain oleh mesin “pemotong masa tahanan” para koruptor. Selama masa pandemik, kita pun kehilangan arah dan ilham untuk menawan Tuhan.

Tapi, di negeri orang-orang Eng, Ire, dan orang Scott, mereka dengan santai dan bermarwah ‘menawan’ Tuhan. Seakan Tuhan milik mereka. Tuhan senantiasa berpihak kepada bangsa Eng(lish), bangsa Ir(ish) dan Scott(ish) lewat perlambangan tahta dan kekuasaan.

Tahta dan kekuasaan bagi mereka adalah titah langit. Proyek langit dan perintah Tuhan. Tahta Tuhan segaris (inline) dengan tahta Raja /Ratu.

Kuasa, tak semata kehendak demos (rakyat) yang didistorsi semacam suara langit yang ditumpang pada mulut manusia (walau bisa hedon dan pragmatis dalam penerapan di muka bumi).

Apa pun kejadiannya, segetir apa pun kemalangan yang menimpa, Tuhan senantiasa mereka peluk dan pindah-pindahkan dalam tawanan ‘berkuasa’ dalam simbol-simbol kuasa yang dikonstruksi oleh manusia di Britania Raya yang senantiasa merindukan ‘giringan langit’ dalam kesadaran kuasa dan kekuasaan. Lalu, di mana Diana?