Di Inggris Raya, Tuhan menggeser peliharaannya dari Ratu ke Raja, sejak senja. Dan, gelombang bunyi itu merayap di ruang-ruang publik. Pun, puncak ratap-gemuruh bunyi itu berhimpun di depan Buckingham Palace.

Dari mulut-mulut yang berucap di tataran tanah Inggris, Skotlandia, Irlandia (Utara); “God save the United Kingdom and bless the reign of the New King”...

Intinya, anthem of United Kingdom mengingsut diksi dari Her ke Him, juga dari Queen ke King. Dalam masa transisi, lirik itu boleh bersepakat begini: “God save the Queen. Long live the King”. Lirik transisional, mungkin hanya berlangsung dalam jumlahan respon kreatif warga.

Mick Jagger yang dekat dengan bunyi dan nada itu, tak mendaras partitur. Malah dia beranjak di atas lompatan kata-kata: “Dalam rangkap luruh kehidupan ku, Yang Mulia selalu ada. Di masa kanakkanak, daku meyaksikan gempita upacara perkawinan beliau di TV. Aku mengenang beliau selaku putri belia nan juwita, di atas semua kecintaan itu, beliau ialah nenek-suri bagi bangsa ini. My deepest sympathies are with the Royal Family”

Kuntum Monarkhi yang terpanjang mekarnya, sepanjang sejarah Inggris (malah juga dunia), di tangan seorang Ratu (permaisuri) yang merangkap “Sultanah”. Jika dilarik dalam dialek (lidah) Arab populer, sapaannya boleh menjadi “Al Sultanah al Ilya Zabatiyah” (Sultanah Elizabeth).

Monarkhi itu secara etimologis diambil dari akar kata “Arch” lengkung (bak mangkuk terbalik); sebagai lambang Realitas, Kebenaran, Misteri nan Sayup, alias Tuhan. Mon(arch); dengan turunan yang lain menjadi Architecture, Archaeology, bersepupu lagi dengan Bureaucracy; semua aktivitas kuasa ini berada dalam bayangan langit (Tuhan) dan hendak menemu Tuhan (Arch).

Jembatan dengan konstruksi Arch (lengkung), menumpu kaki kekuatannya pada dua sisi tebing. Lengkung ini memberi ruang kepada manusia dan makhluk untuk berdendang tentang Tuhan.

Dia bertahta selama 15 periode Perdana Menteri sejak dari Winston Churchill (kelahiran 1874) hingga Ms. Truss (kelahiran 1975) dengan rentang masa kelahiran 101 tahun.

Pidato perdana selaku Raja (King Charles III): “Kepergian beliau akan menjadi duka mendalam bagi negara, seluruh rangka Persemakmuran dan masyarakat yang tak terbilang di seluruh dunia”.

Seluruh anak-anak Yang Mulia merapat dan berhimpun di Barmoral, tak jauh dari Aberdeen (Scottland). Semacam ‘tahta suci’ versi Gereja Anglikan; The Arcbishop of Canterbury Justin Welby –spiritual leader- menyatakan duka teramat dalam atas kemangkatan sang Ratu lintas masa.