https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Uji Coba B50 Tuntas, ESDM Pastikan Mobil Segera Gunakan Biodiesel Sawit

Uji Coba B50 Tuntas, ESDM Pastikan Mobil Segera Gunakan Biodiesel Sawit

Ilustrasi - Aprobi


Jakarta, elaeis.co - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan uji coba biodiesel B50 yakni campuran solar dengan 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit mentah (CPO), telah rampung dilakukan. 

Setelah sukses di berbagai moda transportasi seperti kereta, kapal, dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), kini Kementerian ESDM bersiap memperluas pengujian ke kendaraan roda empat atau mobil.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani, menyampaikan bahwa tahap pengujian statis telah selesai dan kini tengah memasuki fase pengujian dinamis di lapangan. Uji coba ini akan mencakup berbagai jenis kendaraan, mulai dari truk pengangkut hingga mobil penumpang.

“Kalau uji statisnya sudah selesai, sekarang kami masuk ke tahap yang lebih besar lagi, seperti kendaraan berat dan mobil pribadi,” kata Eniya kepada awak media di Jakarta, Senin (6/10). 

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan uji coba kali ini tidak akan menunggu seremoni resmi. “Kita langsung jalan saja, nggak perlu acara seremonial. Secepatnya road test dilakukan,” tambahnya.

Langkah cepat ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat penerapan bahan bakar ramah lingkungan berbasis sawit. Program B50 diharapkan menjadi lompatan besar setelah sebelumnya Indonesia berhasil menjalankan B30 dan kini tengah menuntaskan program B40.

Untuk mendukung penerapan penuh B50 pada tahun 2026, Indonesia membutuhkan tambahan produksi sekitar 4 juta kiloliter Fatty Acid Methyl Ester (FAME)—komponen utama dalam biodiesel. Saat ini, total produksi biodiesel nasional untuk program B40 mencapai 15,7 juta kiloliter. Dengan beralih ke B50, kebutuhan biodiesel akan meningkat menjadi 19 hingga 20 juta kiloliter per tahun.

 

Menurut Eniya, kebutuhan tambahan tersebut masih bisa dipenuhi dari produksi CPO dalam negeri yang mencapai sekitar 50 juta ton per tahun. Ia juga menyebut sejumlah perusahaan telah bersiap memperluas kapasitas produksinya untuk mendukung program ini. “Ekspansi dari pabrik-pabrik sudah mulai berjalan. Ada empat perusahaan yang sudah mengajukan perluasan kapasitas ke saya,” ujarnya.

Dengan dukungan industri biodiesel yang kian berkembang, pemerintah optimistis bahwa transisi menuju B50 bisa berjalan sesuai target. Apalagi, program ini sejalan dengan visi Indonesia untuk mencapai kemandirian energi berbasis sumber daya alam sendiri, sekaligus memperkuat hilirisasi sawit nasional.

Meski penuh optimisme, sejumlah lembaga riset internasional menilai target penerapan B50 pada 2026 tidak mudah dicapai. Laporan BMI, bagian dari Fitch Solutions menyebutkan kapasitas produksi biodiesel domestik saat ini baru mencapai 19,6 juta kiloliter, sementara kebutuhan untuk program B50 bisa menembus 20,5 juta kiloliter.

Dengan proyeksi konsumsi solar nasional mencapai 40,9 juta kiloliter pada 2026, porsi biodiesel 50 persen berarti kebutuhan FAME meningkat drastis. BMI menilai tanpa tambahan pabrik baru, target B50 akan sulit terealisasi. Pemerintah juga diperkirakan akan menahan sebagian ekspor CPO untuk memastikan pasokan domestik mencukupi.

Di balik tantangan tersebut, pencapaian uji coba B50 menjadi tonggak penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia. Program ini bukan hanya soal penghematan impor bahan bakar fosil, tapi juga tentang kedaulatan energi dan dukungan nyata terhadap petani kelapa sawit.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :