https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

#SawitBaik Sasar Pelajar, Kampanye Negatif Sawit Ditangkal Lewat Jalur Pendidikan

#SawitBaik Sasar Pelajar, Kampanye Negatif Sawit Ditangkal Lewat Jalur Pendidikan

FGD #SawitBaik di Bogor. foto: ist.


Jakarta, elaeis.co - Kelapa sawit berperan penting dalam perekonomian dan transisi energi Indonesia. Mandatory biodiesel berbasis kelapa sawit sejak tahun 2015 telah mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan.

Program tersebut berhasil menghemat devisa negara sebesar Rp 122,65 triliun dan berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 27,8 juta ton CO2.

Tahun 2023, pemerintah menargetkan penerapan biodiesel B35 dapat menghemat devisa US$10,75 miliar atau setara Rp 161 triliun, menyerap 1,65 juta tenaga kerja, dan mengurangi emisi GRK sebesar 35 juta ton CO2.

Dari sisi perekonomian. Kontribusi kelapa sawit, menurut data OJK, sepanjang mata rantai distribusi dari hulu hingga hilir mencapai 6% – 7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Total produksi minyak sawit mencapai 47,4 juta ton di tahun 2018, dengan komposisi ekspor mencapai angka 80,7 % dari total produksi komoditas ini.

Total luasan kebun sawit di Indonesia telah mencapai 14,03 juta hektar dan telah meningkatkan penyerapan tenaga kerja menjadi lebih dari 16 juta orang. Komposisi tersebut terdiri dari 12 juta orang pekerja langsung dan 4 juta petani di perkebunan. Ekspor kelapa sawit Indonesia secara keseluruhan (CPO dan produk turunannya, biodiesel, dan oleochemical) telah dibukukan mengalami kenaikan sekitar 8% atau dari 32,18 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 34,71 juta ton di 2018.

Peningkatan paling signifikan secara persentase dicatatkan oleh biodiesel Indonesia yaitu sekitar 851%, atau dari 164 ribu ton (2017) menjadi 1,56 juta ton (2018).

Sayangnya, kontribusi sawit ini justru dianggap sejumlah pihak telah mengganggu eksistensi minyak nabati lainnya. Persaingan ini memunculkan kampanye negatif bahkan kebijakan hambatan perdagangan untuk menahan perkembangan sawit. 

Terkait dengan kondisi tersebut, pemerintah, pengusaha, dan akademisi menggelar focus group discussion (FGD) #SawitBaik di Bogor, Kamis (2/11), untuk menyamakan persepsi kegiatan kerjasama pembentukan sikap positif masyarakat Indonesia terhadap sawit melalui sistem pendidikan yang berkelanjutan. FGD ini dilaksanakan bekerja sama dengan PT DMB Global dan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS)

Ketua Umum Yayasan Pusat Pentaheliks Ilmuwan Pertanian Indonesia, Dr Paristiyanti Nurwardani selaku Ketua Pelaksana FGD mengatakan, kegiatan  ini melibatkan 47 narasumber dan pembahas yang merupakan para ahli/pakar di bidang industri kelapa sawit, ilmu sosial budaya, lingkungan, kesehatan, pendidikan, psikologi, dan komunikasi.

“Peranan  tenaga pendidik sangat penting dalam menanamkan sikap positif terhadap sawit sejak dini. Lewat FGD, kita ingin mencari format terbaik untuk melaksanakan kampanye #Sawitbaik di kalangan pelajar dan mahasiswa,” terangnya dalam keterangan resmi, kemarin.

“Kampanye #SawitBaik sangat diperlukan untuk menahan laju stigma negatif terhadap industri sawit di tanah air,” tambahnya.

Isu yang banyak diangkat dalam kampanye negatif saat ini adalah terkait lingkungan dan sosial. Kampanye negatif itu sendiri telah berhasil membuat stigma negatif pada sebagian masyarakat Indonesia. Sebagai contoh kasus soal ujian sekolah di Provinsi Riau pada tahun 2021 yang dianggap telah mendiskreditkan kelapa sawit.

“Jika hal tersebut dibiarkan tentu akan merugikan industri kelapa sawit dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” ujar Paris, sapaan akrabnya.

Dia menyatakan bahwa peranan tenaga pendidik sangat penting dalam menanamkan sikap positif terhadap sawit sejak dini. Tenaga pendidik yang dimaksud terdiri dari guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Kampanye #Sawitbaik rencananya berlangsung mulai 2024 mendatang, melibatkan 167 Perguruan Tinggi, satuan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar dan menengah di seluruh Indonesia.

Dr. Benny Bernardus, Direktur Utama PT DMB Global dan seorang ahli psikologi, menjelaskan bahwa proses ini perlu dilakukan dalam tiga kondisi utama. Pertama, pada kondisi di mana pembentukan sikap dimulai sejak usia dini, ketika pikiran masih terbuka dan belum terpengaruh oleh kampanye negatif tentang kelapa sawit. Kedua, pada kondisi di mana seseorang sudah memiliki informasi negatif tentang kelapa sawit, dan perlu mengalami proses perubahan sikap. Ketiga pembentukan sikap positif harus dengan pendekatan holistic sehingga melibatkan berbagai ahli yang terkait.

“Kita harus menjaga ketahanan industri sawit dengan melakukan berbagai program yang dapat memberikan sikap positip terhadap masyarakat melalui pendidikan, jika hal ini tidak terlaksana dan membiarkan serbuan kampanye negatif dibiarkan, maka bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia diambang kehancuran. Mari segenap elemen bangsa turut serta menyukseskan pembentukan sikap positif masyarakat Indonesia terhadap industri kelapa sawit melalui sistem pendidikan yang berkelanjutan,” tandasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Bustanul Arifin, selaku Komite Litbang BPDPKS dan dosen pascasarjana SB-IPB, mengatakan bahwa strategi membangun reputasi sawit Indonesia ada enam. Yaitu terkait dengan kecermatan dalam keputusan kebijakan di dalam negeri, adanya konsumsi biodiesel sawit Uni Eropa yang cenderung turun apabila jika gugatan Indonesia ke Uni Eropa tidak dikabulkan dalam sidang WTO.

Strategi lainnya adalah pencarian pasar CPO baru di Asia Timur, Asia Tengah dan lain-lain, pendampingan dan pemberdayaan petani untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit, promosi kelapa sawit sebagai investasi masa depan, benchmark untuk membangun diplomasi “sawit baik” melalui benchmark kepada Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA).

“Kita harus menjaga ketahanan Industri sawit dengan melakukan berbagai program yang dapat memberikan sikap positip terhadap masayarakat melalui Pendidikan. Jika hal ini tidak terlaksana dan membiarkan serbuan kampanye negatif dibiarkan, maka bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia diambang kehancuran,” ujarnya.
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :