Berita / KELINDAN KATA /
Salmon: Ikan Paling Koplak atau Paling Cerdas di Dunia?
Ilustrasi ikan salmon. Foto: else.io
Oleh: Sudarsono Soedomo
Di dunia hewan, barangkali tidak ada makhluk yang lebih membingungkan daripada ikan salmon. Ia lahir di hulu sungai yang dingin, kecil, dan sunyi. Setelah remaja, ia turun ke hilir, lalu ke laut lepas, membesar, menguat, dan menjadi ikan yang—secara kuliner—sangat dihormati manusia. Namun tepat ketika hidup tampak paling menjanjikan, salmon justru berbalik arah. Ia berenang melawan arus, menembus jeram, melompat di antara batu-batu licin, hanya untuk kembali ke tempat kelahirannya. Di sanalah ia kawin, bertelur, lalu menunggu mati.
Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: ini ikan paling koplak atau justru paling cerdas?
Coba bayangkan jika salmon sedikit lebih “rasional”. Ia dapat saja berkata, “Hidup di laut enak. Makanan melimpah. Predator ada, tapi manageable. Mengapa harus capek-capek naik ke hulu, lalu mati?” Jika salmon memilih tinggal di laut atau di hilir sungai, umur biologisnya boleh jadi lebih panjang. Ia dapat hidup nyaman, gemuk, dan tidak harus berhadapan dengan beruang yang menunggu sambil menguap malas. Dari sudut pandang individu, keputusan salmon tampak sangat buruk—bahkan tragis.
Namun di sinilah keanehannya. Justru karena “kebodohan” itulah spesies salmon bertahan. Salmon tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia hidup untuk siklus. Ia adalah makhluk yang, tanpa pernah membaca buku etika, memahami bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kenyamanan. Ia tahu—entah dari mana—bahwa masa depan spesiesnya bergantung pada kesediaan generasi sekarang untuk selesai.
Manusia, sebaliknya, sangat cerdas dalam memperpanjang hidup individu, tetapi sering amat bodoh dalam menjaga masa depan kolektif. Kita memilih tetap “di laut”: menumpuk sumber daya, menunda tanggung jawab, dan berkata, “Nanti saja, generasi berikutnya yang mengurus.” Kita ingin hidup panjang, nyaman, dan aman, meski ekosistem runtuh perlahan. Salmon tidak mengenal frasa “nanti saja”.
Yang lebih ironis, sebagian salmon bahkan tidak sempat menjalankan “tugas hidupnya”. Mereka dimakan beruang di tengah jalan. Apakah itu sia-sia? Tidak juga. Tubuh salmon yang mati memberi nutrisi bagi hutan, sungai, bahkan pepohonan di sekitarnya. Ekolog pernah menemukan bahwa nitrogen dari tubuh salmon akhirnya menyuburkan vegetasi daratan. Bahkan dalam kegagalannya, salmon tetap berkontribusi.
Apakah salmon bodoh? Jika kebodohan diartikan sebagai ketidakmampuan menghindari penderitaan pribadi, mungkin iya. Tetapi jika kecerdasan diartikan sebagai kesediaan mengorbankan diri demi keberlanjutan yang lebih besar, salmon tampak jauh melampaui manusia modern.
Salmon mengajarkan satu hal sederhana namun sulit: hidup bukan semata soal bertahan selama mungkin, melainkan soal tahu kapan harus kembali, menyelesaikan peran, dan memberi ruang bagi yang lain untuk hidup. Di titik ini, mungkin manusialah—bukan salmon—yang perlu belajar berenang melawan arus.
(mBogor, 05022026)








Komentar Via Facebook :