https://www.elaeis.co

Berita / Bisnis /

PTPN Berutang Rp43 T, Erick Thohir Cium Aroma Korupsi Tersembunyi

PTPN Berutang Rp43 T, Erick Thohir Cium Aroma Korupsi Tersembunyi

Erick Tohir (BUMN)


Jakarta, Elaeis.co - Menteri BUMN Erick Thohir mencium aroma korupsi tersembunyi di tubuh PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN. PTPN III selaku induk holding perkebunan perusahaan plat merah ia sebut memiliki utang hingga Rp 43 triliun.

“Utang Rp 43 triliun adalah penyakit lama dan ini saya rasa korupsi terselubung, harus dibuka dan dituntut yang melakukan ini,” kata Erick dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI beberapa hari lalu, dikutip CNN Indonesia.

Lalu seperti apa rincian utang PTPN yang dimaksud Erick?

Dalam laporan tahunan PTPN 2019, total liabilitas mencapai Rp 77,65 triliun atau naik 16,03 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Utang tersebut terdiri atas utang jangka panjang sebesar Rp 41,28 triliun dan utang jangka pendek sebesar Rp 36,37 triliun.

Jika dilihat lebih jauh, anak-anak perusahaan PTPN memiliki utang yang beragam. Dalam laporan tahunan 2019, PTPN II memiliki utang dengan total Rp 5,4 triliun. Sementara PTPN IV menanggung beban utang dua kali lebih besar, hingga Rp 10,83 triliun.

Pada tahun yang sama, PTPN V memiliki liabilitas hingga Rp 7,4 triliun dan angka ini naik pada tahun berikutnya hingga Rp 7,6 triliun. Utang PTPN V didominasi oleh utang jangka panjang dengan nilai Rp 5,3 triliun.

PTPN VII yang bergerak di bidang karet dan kelapa sawit juga memiliki utang hingga Rp 11,56 triliun. Jumlah ini naik pada 2020 dengan total Rp 12,25 triliun.

PTPN IX yang bergerak di bidang kebun dan non kebun turut membukukan utang hingga Rp 3,5 triliun. Sementara utang PTPN X yang mencapai Rp 3,5 triliun justru mengalami penurunan dibandingkan 2018.

PTPN XI mencatatkan utang senilai Rp 4,14 triliun. Kemudian, PTPN XII memiliki utang hingga Rp 5 triliun dengan kenaikan hingga Rp 400 miliar dibandingkan 2018.

Pada 2018, PTPN XIII memiliki utang Rp 6,8 triliun. Sedangkan PTPN XIV memiliki utang terendah di antara seluruh anak perusahaan, sebesar Rp 1,18 triliun.

Walau dipenuhi dengan segudang utang, Erick mengatakan PTPN telah berhasil melakukan restrukturisasi utang. Namun demikian, ia mengatakan masalah keuangan perusahaan belum tentu selesai.

Ia berharap PTPN dapat melakukan efisiensi secara besar-besaran pada bidang operasional dan menaikkan produksi untuk melunasi utang-utang yang ada.


 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :