Bengkulu, elaeis.co - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bengkulu, Tito Adji Siswantoro mengatakan, keberadaan rentenir di itu sangat meresahkan masyarakat khususnya petani kelapa sawit.

Sebab, petani menjadi target sasaran rentenir karena memiliki pendapatan tetap setiap bulannya. Ditambah lagi keberadaan petani sawit juga jauh dari perkotaan dan bukan berada di daerah yang dekat dengan perbankan.

"Kita dapat info masih banyak rentenir nawari pinjaman kepada masyarakat di Bengkulu, kabarnya bunganya 20 persen per bulan. Oleh sebab itu, teman-teman dari perbankan harus ada terobosan," kata Tito, kemarin.

Menurutnya, regulasi di perbankan perlu diubah dan lebih proaktif dengan mendatangi nasabah secara langsung. Sebab jika tidak proaktif, maka rentenir yang akan lebih dulu mendekati nasabah atau masyarakat.

"Lebih proaktif, datang harian, pengembaliannya juga harian, dari BPR sudah beberapa yang melakukan hal itu. Persyaratannya juga saya minta dipermudah, kalau dari bank yang tidak profesional saja bisa, mestinya bank yang profesional lebih bisa," kata dia.

Ia mengaku, ada beberapa petani kelapa sawit yang terjerat utang dari rentenir. Oleh karena itu, kata dia, bank di Bengkulu harus berusaha mengantisipasi agar petani tidak terjerat rentenir.

"Salah satunya melalui koperasi dengan memberikan pinjaman tanpa bunga. Kemudian dari BPR dan BRI juga bisa hadir di sini," katanya.

Menurutnya, BPR di Bengkulu juga telah memberikan layanan pinjaman tanpa agunan sehingga dapat mempersempit ruang gerak rentenir. Sebab dengan kemudahan pinjaman dari perbankan, maka rentenir akan menjauh.

"Kalau bank banyak yang proaktif menawarkan pinjaman ke petani kelapa sawit maka rentenir akan menyingkir," tuturnya.