Berita / Sumatera /
Petani Sawit Aplikasikan Bio Aktivator, Biaya Operasional Turun Drastis
Penyuluh pertanian swadaya Aceh Tamiang, Admansyah Lubis (pakai kaca mata) saat berada di gudang organik di Qatar. Foto: dokumentasi Admansyah
Karang Baru, elaeis.co - Untuk mengatasi kelangkaan pupuk kimia, tim pelaksana Pusat Unggulan Perkebunan Lestari (PUPL) Aceh Tamiang, Izuddin SP, melatih petani sawit di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mengaplikasikan pupuk bio aktivator.
Izuddin melibatkan Admansyah Lubis, penemu pupuk bio aktivator, untuk memberikan pendampingan dan pembelajaran kepada petani kelapa sawit.
Menurut Izuddin, pelatihan diberikan kepada 47 kelompok petani kelapa sawit swadaya peserta program Verified Sourcing Area (VSA-Daerah Sumber Terverifikasi) di Aceh Tamiang dengan total jumlah petani mencapai 2.200 orang.
Setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk menerima pelatihan pupuk organik dari Admansyah yang juga penyuluh swadaya nasional. Kegiatan ini juga disertai dengan kegiatan monitoring 1 dan 2 bulan pasca pelatihan terhadap tanaman yang diuji coba saat pelatihan.
"Kita sudah berikan pupuk organik sejak bulan Agustus 2022 dengan rata-rata 10 kelompok setiap bulan," katanya melalui keterangan resmi Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh baru-baru ini.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif bagi petani yang menghadapi permasalahan kelangkaan dan mahalnya harga pupuk kimia. Selain itu, diharapkan nantinya petani juga dapat menghasilkan produksi kelapa sawit yang dikelola secara ramah lingkungan sebagaimana diinginkan oleh pasar CPO dunia.
"VSA adalah sebuah program yang menginisiasi upaya untuk menjadikan Aceh Tamiang sebagai kabupaten yang diakui menghasilkan produksi komoditi pertanian dan perkebunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," tukasnya.
Admansyah berharap program kerja sama dengan PUPL Aceh Tamiang bisa membantu petani kelapa sawit merawat kebunnya. "Petani sawit harus cerdas dalam perawatan kebun serta mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi," ujarnya.
"Saat ini terjadi kelangkaan pupuk, kalaupun ada, harganya sangat mahal. Dengan bio teknologi hayati, mampu memperkecil biaya usaha tani sawit hampir 50 persen dari biaya konvensional," imbuhnya.







Komentar Via Facebook :