Berita / Sumatera /
Petani dan Pengusaha Kompak Minta Larangan Ekspor Dicabut
Truk pengangkut sawit antre di depan PKS. Foto: Ist.
Bengkulu, elaeis.co - Gejolak harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit paska pemberlakukan larangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya juga terjadi di Provinsi Bengkulu. Bukan cuma petani sawit, kondisi ini juga dikeluhkan oleh para pengusaha.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan, para petani dan pengusaha sawit sudah mengeluhkan kondisi ini padanya. Menurutnya, keinginan mereka saat ini adalah pemerintah mencabut larangan ekspor CPO.
"Pengusaha dan petani berharap larangan ekspor segera dicabut," katanya saat berbincang dengan elaeis.co melalui sambungan telepon, Selasa (10/5).
Saat ini banyak perusahaan kesulitan menampung TBS sawit milik petani karena tangki penampungan crude palm oil (CPO) sudah penuh. Hal inilah yang kerap mengakibatkan antrean panjang di berbagai pabrik kelapa sawit (PKS) di Bengkulu.
Sejak pemerintah mengumumkan larangan ekspor minyak goreng serta CPO dua minggu lalu, harga TBS di seluruh sentra kelapa sawit di Indonesia langsung anjlok.
Bahkan di Provinsi Riau, yang merupakan daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia, harga TBS sawit anjlok hingga 60 persen. Kondisi harga TBS di tingkat petani non-mitra PKS bahkan lebih parah, turun hingga 80 persen dari sebelumnya.







Komentar Via Facebook :