Berita / Sumatera /
Pengusaha Sawit Aceh Diajak Bantu Tingkatkan Produktivitas dan Percepat Realisasi PSR
Kegiatan FGD Gapki Aceh membahas pajak perusahan kelapa sawit dan percepatan program PSR. foto: ist.
Banda Aceh, elaeis.co – Segenap anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Provinsi Aceh diminta ikut menyukseskan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan memfasilitasi petani di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Cut Huzaimah, mengapreasiasi Gapki Aceh yang turut berkontribusi dalam realisasi PSR. "Meski begitu, kami terus mengajak seluruh anggota Gapki Aceh agar ikut serta menyukseskan program percepatan PSR untuk petani,” katanya.
Pemerintah pusat menargetkan pelaksanaan PST tahun ini mencapai 180.000 hektare. Capaian PSR secara nasional hingga Mei 2023 baru 17.793 hektare. "Kita harus gerak cepat bersama-sama untuk mencapai target tersebut," tukasnya.
Dia juga mengajak para pengusaha perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang ada di Aceh agar segera bergabung dalam wadah Gapki. "Sehingga bisa memberikan kontribusi lebih besar untuk memajukan industri sawit berkelanjutan di Aceh," tegasnya.
Sekda Aceh, Bustami Hamzah, menambahkan, para pelaku usaha di bidang kelapa sawit sudah seharusnya membangun kerja sama dengan pemerintah daerah dalam rangka memperkuat kualitas dan kinerja produktivitas kelapa sawit.
"Saya sangat yakin produksi kelapa sawit Aceh masih bisa ditingkatkan. Produktivitas kelapa sawit bisa dinaikkan dengan banyak cara. Selain peremajaan dan praktik budidaya yang baik, juga dengan memaksimalkan pengelolaan lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang telah diperoleh. Untuk itu saya meminta perusahaan sawit agar segera menanam lahan yang ada, jangan lagi ditunda-tunda," tandasnya.
Ketua Gapki Aceh, Denny Ramadhan Nasution, juga berharap semua pengurus periode 2023-2028 yang dilantik baru-baru ini dapat berperan aktif memajukan industri kelapa sawit di Aceh.
Selain menggenjot PSR, Denny juga akan berupaya agar hasil produksi kelapa sawit bisa diolah sendiri di Aceh. Di Lhokseumawe sudah pernah ada kawasan pengolahan minyak sawit atau CPO, tapi sayangnya saat ini sudah berhenti beroperasi. “Nanti kita akan mengajak investor untuk pembangunan industri hilir sehingga harga minyak goreng nantinya bisa terjangkau," sebutnya.
"Kita ingin berkontribusi bagi perekonomian daerah dan ini menjadi tantangan bagi Gapki Aceh, yakni bagaimana mewujudkan niat luhur ini sehingga tidak jadi sebatas orientasi,” tambahnya.







Komentar Via Facebook :