https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Naikkan Campuran Biodiesel ke B50, BRIN Ingatkan Risiko Serius

Naikkan Campuran Biodiesel ke B50, BRIN Ingatkan Risiko Serius


Jakarta, elaeis.co - Rencana pemerintah menaikkan kadar campuran biodiesel dari B40 ke B50 disambut dengan optimisme besar. Namun di balik semangat menuju energi hijau, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa langkah ini tidak bisa dilakukan tergesa-gesa tanpa persiapan matang.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, Soni Solistia Wirawan, menjelaskan bahwa setiap peningkatan kadar campuran biodiesel harus melalui tahapan riset yang menyeluruh. Menurutnya, meskipun biodiesel membawa banyak manfaat bagi lingkungan dan kemandirian energi, tetap ada sejumlah tantangan teknis yang perlu diantisipasi.

“Biodiesel itu ibarat pedang bermata dua. Ia bisa membersihkan mesin karena sifat solvency-nya, tapi juga mudah menyerap air, cepat teroksidasi, dan bisa menggumpal saat suhu rendah,” kata Soni dalam acara The 2nd Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference & Expo (IPORICE) 2025.

Biodiesel dikenal ramah lingkungan karena mudah terurai secara alami dan berasal dari sumber terbarukan seperti minyak sawit mentah (CPO). 

Namun, bahan bakar ini memiliki kandungan energi yang sedikit lebih rendah dibanding solar fosil, sehingga bisa berpengaruh terhadap performa mesin.

“Setiap kali kita ingin menaikkan kadar biodiesel, misalnya dari B40 ke B50, ada parameter yang harus diperbaiki. Dulu waktu naik dari B30 ke B40, kadar airnya diturunkan dari 500 menjadi 360. Nah, ke B50 nanti juga harus disesuaikan lagi,” jelasnya.

Selain kadar air, parameter seperti stabilitas oksidasi juga perlu ditingkatkan agar biodiesel tidak cepat rusak atau mengental. BRIN juga menekankan pentingnya pengujian menyeluruh, baik melalui uji laboratorium maupun uji jalan (road test).

Menariknya, pengujian biodiesel tidak hanya dilakukan di jalanan kota, tapi juga di daerah bersuhu rendah seperti Dieng, Jawa Tengah. Tujuannya untuk memastikan bahan bakar tetap bisa bekerja optimal meski kendaraan dibiarkan dalam suhu dingin dalam waktu lama.

“Kita parkir mobil di Tambi, Dieng, selama sebulan. Lalu dicoba dinyalakan. Dalam beberapa detik langsung nyala, artinya aman dari pembekuan,” katanya bangga.

Meski begitu, tantangan tidak berhenti di situ. Menurut Soni, kualitas biodiesel seringkali berubah saat proses distribusi. Bahan bakar bisa terkontaminasi air atau kotoran, menyebabkan perbedaan kualitas antara titik pengiriman dan penerimaan. 

 

Karena itu, ia menegaskan pentingnya penerapan good housekeeping, pemantauan mutu penyimpanan, serta teknik pencampuran dan sampling yang akurat.

“Kadang bahan bakar saat dikirim dinyatakan sesuai standar, tapi ketika sampai, kualitasnya sudah berbeda. Di sinilah pentingnya menjaga rantai distribusi tetap bersih dan tertutup dari kontaminasi,” ujarnya.

Selain itu, material tangki, selang, dan komponen kendaraan juga harus kompatibel dengan biodiesel. Beberapa bahan seperti karet atau logam kuningan tertentu bisa bereaksi negatif, mengembang, atau terkikis jika terus bersentuhan dengan biodiesel.

Soni menegaskan, Indonesia saat ini merupakan negara dengan kadar campuran biodiesel tertinggi di dunia. Penerapan B40 sudah menjadi bukti bahwa Indonesia mampu melangkah lebih jauh dibanding banyak negara lain.

“Negara lain belajar dari kita. Kalau Arab punya minyak, kita punya energi terbarukan dari sawit. Potensi kita besar sekali,” katanya.

Meski begitu, ia mengingatkan agar ambisi menuju B50 dan bahkan B100 tidak mengabaikan aspek riset, pengujian, dan kesiapan industri. “Setiap kenaikan campuran butuh riset baru. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan masalah teknis di lapangan,” tutupnya.

Langkah menuju B50 bukan sekadar soal mencampur bahan bakar, tapi tentang menjaga keseimbangan antara teknologi, lingkungan, dan ketahanan energi nasional. Indonesia sudah di jalur yang benar namun, sebagaimana disampaikan BRIN, kehati-hatian tetap kunci agar revolusi energi hijau ini benar-benar berjalan mulus tanpa risiko serius di masa depan.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :