Berita / Nasional /
Membaca Ulang Isu Lingkungan dan Peran Strategis Sawit dari Panggung Akademik
Prof. Yanto Santosa saat berbicara dalam Seminar Nasional “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan”, Kamis 22 Januari 2026. Foto: Ist.
Yogyakarta, elaeis.co -- Di tengah derasnya kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit Indonesia, panggung akademik kembali memainkan peran strategisnya: meluruskan stigma, menimbang tudingan, dan mengembalikan diskursus pada pijakan ilmu pengetahuan yang utuh, tidak terlepas dari realitas ekonomi dan energi nasional.
Benang merah itulah yang mengemuka dalam Seminar Nasional “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan” yang digelar secara hibrida di Kampus UPN Veteran Yogyakarta, Kamis 22 Januari 2026. Forum yang diselenggarakan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta bekerjasama dengan GAPKI Pusat ini menampilkan sejumlah Guru Besar mumpuni di bidangnya.
Praktis, forum ini tidak sekadar menjadi ruang paparan akademik, tetapi arena klarifikasi ilmiah sekaligus penguatan perspektif strategis sawit sebagai industri nasional.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Yanto Santosa, tampil sebagai salah satu pembicara kunci yang membedah tudingan lingkungan terhadap sawit secara sistematis dan berbasis riset. Sementara itu, dari sisi kebijakan dan ekonomi, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono melengkapi diskursus dengan data konkret mengenai kontribusi sawit bagi kedaulatan ekonomi dan energi Indonesia.

Dalam paparannya, Prof. Yanto menempatkan isu deforestasi dalam konteks global. Ia mengutip Kajian Komisi Eropa 2013 yang mencatat bahwa dari total 239 juta hektare deforestasi dunia, pembukaan kebun sawit hanya menyumbang sekitar 6 juta hektare atau ±2,5 persen—jauh di bawah sektor peternakan, kedelai, dan jagung.

Ia menegaskan bahwa perubahan peruntukan kawasan hutan di Indonesia berlangsung dalam kerangka hukum yang jelas melalui RTRW, dengan batas minimal kawasan hutan 30 persen per provinsi sebagaimana amanat UU No. 41 Tahun 1999. Ia pun mengingatkan bahwa sawit terlalu sering dijadikan kambing hitam, tanpa pembacaan konteks dan data yang berimbang.
Narasi bahwa kebun sawit identik dengan “padang gurun hayati” juga dipatahkannya. Berdasarkan hasil kajian lapangan, Prof. Yanto menjelaskan bahwa konversi hutan sekunder ke kebun sawit memang menurunkan keanekaragaman mamalia, namun pada kelompok burung, amfibi, dan reptil justru ditemukan kecenderungan peningkatan.
Bahkan, pada lahan non-hutan yang dikonversi menjadi kebun sawit, hampir seluruh kelompok satwa menunjukkan tren keanekaragaman yang lebih baik. Fakta ini menegaskan bahwa ekologi bekerja dalam spektrum kompleks, bukan logika hitam-putih yang kerap dipakai dalam kampanye negatif.
Terkait isu sawit boros air dan pemicu banjir juga dibedah secara teknis. Berdasarkan neraca air, konsumsi air tanaman sawit berada pada kisaran 3–4 mm per hari—angka yang tidak mendukung klaim sawit mengeringkan sumur atau danau. Lebih jauh, Prof. Yanto menjelaskan peran gawangan mati dengan kapasitas infiltrasi hingga 32,13 cm per jam, yang justru berfungsi sebagai ruang resapan air efektif bila kebun dikelola sesuai kaidah teknis. “Dalam sistem yang dikelola dengan baik, kebun sawit tidak identik dengan banjir,” tegasnya.
Sawit dalam perspektif ekonomi dan energi nasional
Narasi ilmiah tersebut diperkuat oleh paparan Eddy Martono yang menempatkan sawit dalam kerangka kepentingan nasional. Ia menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor sawit Indonesia melampaui sektor migas, dengan kontribusi devisa mencapai USD 39 miliar (2022), USD 30,3 miliar (2023), dan USD 27,7 miliar (2024). Hingga Oktober 2025, ekspor kembali menembus USD 30,6 miliar.
Tak hanya itu, sektor ini menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung, menjadikan sawit sebagai penopang ekonomi jutaan keluarga, terutama di wilayah perdesaan.
Pada aspek energi, Eddy menyoroti program biodiesel sebagai pilar kedaulatan nasional. Hingga 2024, pemanfaatan biodiesel mencapai 11,45 juta kiloliter dan berhasil menghemat devisa negara sekitar Rp 134,2 triliun melalui substitusi impor solar. “Ini bukan sekadar isu industri, tetapi isu kedaulatan energi,” tegasnya.
Satu nada: sawit harus dibela dengan ilmu dan data
Menariknya, para pembicara lain dalam seminar ini pada prinsipnya sepakat bahwa tantangan lingkungan memang nyata dan harus dikelola secara serius, namun segala bentuk kampanye negatif terhadap sawit harus dilawan dengan argumentasi ilmiah, data ekonomi, dan penjelasan yang konsisten—bukan dengan retorika defensif apalagi stigma simplistik. Harus diakui, sawit, dalam konteks Indonesia, bukan hanya komoditas ekspor, melainkan simpul penting antara lingkungan, ekonomi rakyat, dan ketahanan energi nasional.
Jelaslah, seminar ini memperlihatkan satu pelajaran penting: masa depan sawit Indonesia tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling lantang menuding, melainkan oleh siapa yang paling konsisten menghadirkan ilmu pengetahuan, data ekonomi, dan kejujuran analitis.-







Komentar Via Facebook :