Berita / Sumatera /
Limbah Sawit dan Daun Pepaya Kini Jadi Biofoam Super Eco-Friendly
Medan, elaeis.co – Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) sulap limbah sawit dan daun pepaya jadi BIOFLAEIS, kemasan makanan biodegradable super ramah lingkungan yang siap ganti styrofoam sekali pakai.
Inovasi mahasiswa USU ini kembali mencuri perhatian publik dengan karya ramah lingkungan yang nyata.
Keberhasilan mengubah limbah pertanian menjadi kemasan makanan biofoam biodegradable melalui Program Kreativitas Mahasiswa - Kewirausahaan (PKM-K). Produk ini dinamai BIOFLAEIS, memanfaatkan pelepah kelapa sawit dan daun pepaya sebagai bahan utama.
Tim kreatif di balik BIOFLAEIS terdiri dari mahasiswa Teknik Kimia dan Ekonomi Pembangunan, dibimbing dosen Ir. Ilham Perkasa Bako, S.T., M.T. Ide lahir dari keprihatinan terhadap sampah plastik nasional, khususnya styrofoam sekali pakai yang berbahaya bagi kesehatan.
Pelepah kelapa sawit yang kaya selulosa dan hemiselulosa dipadukan dengan daun pepaya yang mengandung senyawa antibakteri dan antijamur. Hasilnya, kemasan ramah lingkungan BIOFLAEIS tidak hanya mudah terurai, tetapi juga menjaga kualitas makanan tetap segar lebih lama.
Menurut Ir. Ilham Perkasa Bako, BIOFLAEIS adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan dapat menjawab persoalan sehari-hari. “Ini bukan sekadar karya kewirausahaan, tapi solusi inovatif yang mendukung kelestarian lingkungan,” ujarnya, Minggu (12/10).
Produk BIOFLAEIS kini siap dipasarkan dengan strategi promosi berbasis media sosial dan pendekatan langsung ke UMKM kuliner, café, dan restoran.
Strategi ini menyasar konsumen muda yang semakin peduli dengan gaya hidup berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan industri yang mendukung keberlanjutan.
Rektor USU, Prof. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak generasi muda yang kreatif dan peduli lingkungan. Menurutnya, program seperti BIOFLAEIS memberikan wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu dan keterampilan mereka dalam menciptakan solusi inovatif.
Keberhasilan BIOFLAEIS juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk berinovasi dengan bahan lokal dan limbah pertanian. Produk ini tidak hanya mendukung gerakan global mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga memberi nilai tambah pada limbah kelapa sawit dan daun pepaya yang sebelumnya terbuang sia-sia.
Dengan BIOFLAEIS, mahasiswa USU membuktikan bahwa inovasi ramah lingkungan bisa menjadi bisnis yang berkelanjutan, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Produk ini membuka jalan bagi industri makanan dan kemasan di Indonesia untuk lebih eco-friendly, sejalan dengan tren global menuju sustainability dan green lifestyle.







Komentar Via Facebook :