Sudut Kata 
Bagian 2

Larangan Ekspor CPO; Menguntungkan kah Buat Emak-emak dan Petani Sawit Mandiri?

Larangan Ekspor CPO; Menguntungkan kah Buat Emak-emak dan Petani Sawit Mandiri?
Achmad Darlan Bin Juhri. foto: dok. pribadi

Pada bagian satu kita telah menganalisis bahwa larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) memberikan dampak pada petani sawit mandiri pada "kemungkinan" tidak terpanennya sebagian TBS pada pokok sawit karena PKS mengurangi kapasitas olah pabrik sebagai akibat kemampuan daya tampung tangki CPO yang terbatas karena terjadinya penundaan atau pembatalan pengiriman kepada buyer yang sebelumnya sudah ada schedule-nya

Sebelum kita masuk kepada diskusi kondisi terkini atas larangan ekspor CPO ada baiknya kita mengetahui gambaran luasan kebun sawit dan produksi CPO Indonesia.

Baca juga: Larangan Ekspor; Menguntungkankah Buat Emak-emak dan Petani Sawit Mandiri?

Total luas lahan kelapa sawit Indonesia mencapai 15,08 juta ha pada 2021. Dari total lahan tersebut yang masuk kategori produktif atau tanaman menghasilkan (TM) adalah seluas 12,59 juta ha atau 83% dari total luasnya dengan rincian luas sebagai berikut (1). PBS : 7,25 juta ha, (2). PR : 4,83 juta ha dan (3).  PBN : 506,7 Ribu Ha.

Dari total luasan TM tersebut perkirakan total produksi CPO mencapai 49,71 juta ton pada 2021, dengan rincian sebagai berikut : (1). PBS : 30,72 juta ton (61,82%), (2). PR : 16,75 juta ton (33,71 %) dan (3). PBN : 2,22 juta ton (4,48%). Pertanyaannya berapa sebenarnya keperluan CPO sesungguhnya untuk minyak goreng? Kita akan cari tahu pada tulisan bagian 3. 

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/04/26/ini-luas-lahan-perkebunan-kelapa-sawit-roduktif-pada-2021

Pada bagian 2 ini kita akan mencoba melihat pengaruh aktual atas larangan CPO kepada emak-emak dan petani sawit mandiri dan ternyata apa yang kita perkirakan sebelumnya benar-benar terjadi. Di mana saat ini harga TBS petani mandiri mengalami penurunan harga yang signifikan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat ME Manurung, harga TBS petani bergerak menurun ke angka terendah. Selama periode 23-30 April 2022 harga TBS Sawit petani terjun bebas sebanyak 58,87% untuk harga di petani sawit mandiri, sementara penurunan harga sekitar 25% untuk di petani plasma mitra PBS.

Dan parahnya bagi provinsi yang belum memiliki Pergub Tataniaga TBS Turunan dari Permentan No. 1 Tahun 2018, harga TBS sawitnya  bisa anjlok sampai 65% dibandingkan harga Penetapan Disbun. https://www.infosawit.com/news/12367/petani-sawit-kian-tertekan-harga-tbs-sawit-yang-terpangkas

Ternyata dengan dilarangnya ekspor CPO yang mengalami kepanikan itu tidak hanya petani sawit mandiri karena berakibat harga TBS turun serta kemungkinan tidak terjualnya TBS karena daya tampung PKS yang mengurangi produksi dan/ atau hanya fokus mengolah TBS sendiri.

Namun PBS yang memiliki PKS pun mulai panik akibat kemampuan tampung tangki simpan (Storage tank) sudah mulai over kapasitas, sehingga sebagian pabrik sudah mulai melambatkan produksi dan bahkan tidak lagi menerima Tandan Buah Segar (TBS) Sawit petani bahkan ada yang telah menyetop sementara produksinya.

Problem tidak hanya sampai disitu, pabrik kelapa sawit juga mulai kesulitan dalam menjual CPO hasil olah TBS Sawitnya, lantaran banyak pembeli yang menahan dan menunggu tindak lanjut dari kebijakan penyetopan ekspor ini. https://www.infosawit.com/news/12374/tak-hanya-petani--pabrik-sawit-pun-panik--berharap-kran-ekspor-cpo-dibuka

Sedangkan untuk harga minyak goreng setelah 14 hari larangan ekspor CPO berdasarkan berita yang ditulis oleh CNBC Indonesia  pada 12 Mei 2002 dengan mengutip catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga rata-rata minyak goreng kemasan bermerek 1 dipasar tradisional per 11 Mei 2022 adalah Rp. 26.950/ Kg.

Maka bila dibandingkan dengan harga pada 28 April 2022, harga turun Rp. 100 atau hanya 0,37%. Dan perlu dicatat penurunan itu adalah rata-rata nasional, jadi di sejumlah provinsi, harga komoditas tersebut masih bertahan dan bahkan ada yang naik. https://www.cnbcindonesia.com/specialreport/news/20220512/Simalakama-Ekspor-Sawit/index.php

Dari data dan informasi tersebut di atas maka diduga bahwa kebijakan melarang ekspor CPO yang dilakukan oleh pemerintah saat ini belum dapat menyelesaikan problem dasar penyebab mahalnya harga minyak goreng, karena terbukti 14 hari sejak larangan diberlakukan harga minyak goreng secara rata-rata nasional baru turun Rp. 100 atau 0,37% dan di daerah-daerah tertentu harga masih cenderung bertahan atau bahkan ada yang naik.

Dan puncaknya pada tanggal 17 Mei 2022 terjadi demo menolak larangan ekspor CPO oleh Apkasindo yang digelar secara serentak di ibukota negara dan 146 kota provinsi/ kabupaten/ kotamadya. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6080536/petani-sawit-berdarah-darah-hari-ini-gelar-demo-besar-besaran

https://www.youtube.com/watch?v=X3YjZPJudOI&ab_channel=KOMPASTV

Larangan ekspor CPO sampai hari ini belum memberikan keuntungan buat emak-emak apalagi petani sawit mandiri, tetapi yang sudah pasti adalah merugikan petani sawit mandiri baik dalam kontek jangka pendek yaitu menurunnya harta TBS maupun dalam kontek jangka panjang yaitu terbuka berpelung petani tidak bisa melakukan perawatan pohon sawit baik berupa pemberian pupuk maupun replanting (peremajaan pohon sawit).

Ternyata emak-emak dan petani sawit mandiri belum diuntungkan dengan larangan ekspor CPO ini, lalu siapa yang diuntungkan?, Dan bagaimana solusinya menurut sistem ekonomi Islam, mari kita bahas dibagian 3 (akhir) nanti.


Achmad Darlan Bin Juhri
Praktisi lapangan dengan pengalaman di PT Ihutani II (1992), PT Sumalindo Group (1999), Cargill (2006), Asian Indo Holding/ Genting (2011), IMC Plantation (2013), PT. NG/ JC Chemical (2019), Pengurus GAPKI Kaltim (2019), BDO/Co Founder PT Simoli (2019), Ketua Komite IV Program & Kompetensi DPP Indonesian Planter Society/ IPS (2019)

Editor: Abdul Aziz