Berita / Feature /
Kunci Sukses Sopir Truk Sawit: Kurangi Biaya Kelakuan!
Pemilik RAM UD. Chairiah saat memantau pekerjaan para pekerja di ram. foto: aziz
Ram UD. Chairiah di kawasan lintas jalan Gampong Rantau Panjang, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh itu, nyaris tidak pernah sepi.
Kalau tidak sepeda motor dengan keranjang di bagian belakang penuh dengan janjangan Tandan Buah Segar (TBS) yang datang, mobil L300 atau kendaraan lain pula yang nongol.
Semuanya harus naik dulu ke timbangan digital yang teronggok di depan kantor kecil ram itu. Setelah tahu berapa berat yang naik, barulah TBS dibongkar.
Setelah TBS dibongkar, kendaraan tadi --- baik itu sepeda motor maupun kendaraan roda empat atau lebih --- musti naik lagi ke timbangan digital tadi.
Berapa selisi berat sebelum dan sesudah TBS dibongkar, segitulah berat TBS yang dibawa oleh kendaraan-kendaraan tadi.
Sudah sejak 6 tahun lalu suasana semacam itu terjadi, bertahan setelah Mahrudin Sinaga --- bekas Kepala Desa Rantau Panjang dua periode --- membangun ram itu.
UD Chairiah sendiri menampung hasil panen lebih dari 100 petani di desa itu, mereka tergabung dalam Kelompok Tani 'Suka Tani'.
Menurut Mahrudin, lahan kebun sawit anggota kelompok tani itu mencapai 480 hektar. Luasan ini hanya sekitar 21% dari total luas desa Rantau Panjang yang mencapai 2.200 hektar.
“Kalau ditotal, dalam sebulan produksi petani mencapai sekitar 500-700 ton lah,” terang lelaki 47 tahun itu saat berbincang dengan Elaeis Media Group (EMG) .
Hadirnya Ram ini benar-benar membikin Joni Sinaga sangat tertolong. Sebab dia tinggal menunggu di ram untuk kemudian mengangkut TBS itu ke pabrik Pabrik PT. Lembah Bakti 2 yang berjarak sekitar 20 kilometer dari ram itu.
Bagi anak perusahaan PT. Astra Agro Lestari itu, UD Chairiah adalah mitra.
Balik ke cerita TBS tadi, kalaupun Joni musti membawa truknya ke kebun masyarakat, ini berarti akan ada hasil panen minimal 5 ton yang harus dijemput.
Sebelum ram itu ada, ayah tiga anak inilah yang bertugas mengantarkan hasil panen petani ke kebun. Semuanya ditimbang di tempat, pakai timbangan gantung.
Lantaran harus dari satu tempat berkemah ke tempat berkemah lain, hampir seharian juga lelaki 46 tahun itu berkeliling agar bisa penuh satu truk. Setelahnya barulah dia bawa ke pabrik.
*****
Sudah lebih dari satu dekati Joni menggeluti profesinya itu. Menjadi sopir truk sawit di usaha jual beli TBS milik Mahrudin, sudah dia lakoni sejak hampir 7 tahun silam. Bahkan sebelum ram UD Chairiah ada.
Joni sendiri adalah adik kandung Mahrudin. Mereka lima bersaudara. Mahrudin anak kedua, sementara Joni bertahan di bawah.
Baca juga: Upah Sabar Joni Menjadi Sopir Truk Sawit
Meski bekerja pada usaha milik abangnya, Joni tetap berusaha profesional. Saking profesionalnya, sampai-sampai Joni jarang bisa pulang ke rumahnya.
Terlebih lagi saat hasil panen petani lagi banyak. Mau jam berapa pun TBS ada dan cukup satu truk, langsung dia antar ke pabrik.
Oleh trip yang banyak dan keprofesionalan tadi pula lah makanya tahun lalu, Astra Agro menganugerahinya sopir teladan, trip terbanyak.
*****
Lebih dari satu dekade menjadi sopir truk, tidak muncul rasa jenuh bagi Joni. Namun semua yang ditepisnya. Lagi-lagi, sebab sopir menjadi pilihannya.
Ngumpul dengan sesama sopir sambil menunggu antrian di pabrik, bercengkrama, ngobrol bebas, menjadi pelipur lara tersendiri bagi Joni untuk mengusir rasa jenuh itu.
"Ada satu ciri khas di kalangan kami sopir. Kalau makan, salah satu kakinya akan naik ke bangku atau kursi. Itulah ciri khasnya," katanya sambil tertawa.
Itu terjadi kata Joni, karena momen makan adalah sebuah keasyikan tersendiri. "Memang bakal terganjal ke perut. Tapi itulah asyiknya," Joni masih tertawa.
Hanya saja kata Joni, banyak juga sopir yang kebablasan dengan uang meski gaji tergolong banyak.
Itulah sebabnya sampai sekarang, banyak juga teman-teman yang sudah tua dan masih berprofesi sebagai sopir, rumah masih ngontrak.
"Janganlah dulu punya kebun, rumah saja masih ngontrak. Kalau saya, alhamdulillah. Semuanya sudah punya. Bahkan saya bisa liburan bersama keluarga," ujarnya.
Malah untuk hari orang tuanya, Joni sudah mempersiapkan kebun buah-buahan di belakang rumahnya. "Walau sudah tua, profesi ini enggak akan saya tinggalkan. Tapi ya jadi hobi sajalah. Sarana berkumpul dengan teman-teman. Biar bisa juga sambil makan kaki naik," lagi-lagi tawa Joni pecah.
Kepada teman-temannya sesama sopir, satu saja pesan Joni; kurangi biaya kelakuan. "Biaya kelakuan itu enggak ada batasnya. Kalau ini bisa direm, insya Allah hasil kerja keras akan terlihat," Joni memastikan.







Komentar Via Facebook :