https://www.elaeis.co

Berita / Sumatera /

Kredit Senilai Rp 273 Milyar Disalurkan untuk Perkuat Modal Replanting 7.004 Hektar Sawit

Kredit Senilai Rp 273 Milyar Disalurkan untuk Perkuat Modal Replanting 7.004 Hektar Sawit

Penyerahan kredit kepada KUD sawit peserta program PSR di Kabupaten OKI. foto: ist.


Kayuagung, elaeis.co - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya meningkatkan akses keuangan bagi para petani sawit melalui perluasan pembiayaan perbankan dengan skema yang inovatif dan feasible. Skema ini diharapkan bisa meningkatkan produksi sawit nasional.

Terkait dengan hal itu, OJK memfasilitasi penyaluran kredit kepada petani kelapa sawit peserta program peremajaan sawit rakyat (PSR) melalui Koperasi Unit Desa (KUD) di Desa Bumi Harapan, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Kemering Ilir, Sumatera Selatan, Senin (31/7). Pada kesempatan itu diserahkan kredit/pembiayaan oleh BPD Sumsel Babel, Bank BRI, dan Bank Mandiri, kepada 3.900 orang petani melalui 9 KUD yang memiliki luas lahan 7.004 hektar dengan total kredit sebesar Rp 273 miliar.

"Kelapa sawit menjadi penentu dan penopang kuat saat kita melalui masa pandemi. Indonesia juga merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dan minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia mendominasi kebutuhan minyak nabati global yang belum tergantikan hingga saat ini. Makanya perlu kita dorong produktivitasnya dan kita bantu pembiayaannya," jelas Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam keterangan resminya, kemarin, terkait tujuan penyaluran kredit.

Ia menjelaskan, sebagai komoditas strategis, kelapa sawit merupakan andalan neraca perdagangan nasional yang berkontribusi sebesar 13,50 persen terhadap ekspor nonmigas serta menyumbang 3,50 persen total PDB Indonesia.

"OJK mengupayakan peningkatan akses keuangan para petani sawit karena ini jelas merupakan skema pembiayaan berkelanjutan dan menopang tiga pilar dari sustainable finance. Yaitu peningkatan kesejahteraan, melindungi lingkungan hidup, dan untuk pertumbuhan ekonomi," paparnya.

Sumatera Selatan menjadi salah satu daerah yang menjadi target penyaluran kredit karena provinsi ini  memproduksi kelapa sawit sebesar 3,45 juta ton atau 7,57 persen total produksi nasional yang mencapai 45,58 juta ton pada 2022.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, luas perkebunan kelapa sawit mencapai 1.058.600 hektar. Pada 2022, lima kabupaten penghasil sawit terbesar di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Banyuasin (569 ribu ton), Musi Rawas (427 ton), Ogan Komering Ilir (370 ribu ton), Musi Rawas Utara (305 ribu ton), dan Muara Enim (222 ribu ton). 

“Melihat besarnya potensi ekonomi kelapa sawit ini, OJK bersama stakeholder terkait akan terus mendukung petani sawit untuk mendapatkan akses pendanaan yang lebih mudah, mendorong pengelolaan proses perkebunan dan penjaminan kualitas produk, sehingga produktivitas petani sawit dapat terjaga,” sebut Mahendra. 

Dia juga mengungkapkan bahwa untuk Kabupaten Ogan Komering Ilir sebelumnya telah dilakukan peremajaan sawit seluas 21.000 hektar.

"Jadi total luasan lahan replanting di kabupaten ini hingga 2023 ini mencapai 28.000 hektar. Kalau itu kita jaga terus pertumbuhannya dengan perawatan yang baik, maka akan menghasilkan buah sawit beberapa kali lipat dibanding sebelumnya. Dengan meningkatkan hasil panen, maka kesejahteraan para petani sawit ini juga naik,” jelasnya.

“Dan dengan pembiayaan yang lengkap mulai dari pembibitan, penanaman, dan lainnya, tidak ada lagi kendala keuangan bagi petani di masa-masa sebelum panen perdana,” tambahnya.

Salah seorang penerima kredit yang juga pengurus Koperasi Mekar Abadi Mandiri, Agus Setiyono mengatakan, kelompok petani sawit yang beranggotakan 326 orang menyampaikan apresiasi atas upaya OJK yang memberikan kemudahan akses pembiayaan. Dukungan pembiayaan sudah berjalan sejak 2019 dan masih berlanjut sampai saat ini sehingga sangat membantu proses PSR yang didanai BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit).

“Besar harapan kami agar pemerintah juga bisa melakukan upaya agar harga jual CPO bisa lebih stabil atau meningkat, karena akan berdampak pada harga TBS petani," katanya.
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :