https://www.elaeis.co

Berita / Feature /

Kisah PSR Kebun Sawit Amri

Kisah PSR Kebun Sawit Amri

Amri Limbong saat berada di kebun kelapa sawitnya yang hasil PSR. Foto: aziz


Memanfaatkan dana hibah program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), petani di Gampong Namo Buaya ini sukses mentransformasi kebun sawitnya yang tua menjadi kebun sawit muda yang produktif.

Sejauh mata bebas berkelana, yang tampak adalah hamparan pohon sawit muda digayuti buahnya yang lebat. Tak ada lagi pokok-pokok sawit tua yang jangkung dengan buah jarang. 

Transformasi menggembirakan di kebun seluas tiga hektare ini tercapai lewat program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dilakoni sungguh-sungguh oleh si empuya kebun, Amri Limbong.

Di sanalah, di Gampong Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh Darussalam, sebuah kisah perubahan patut disimak--kisah bagaimana program PSR membuka jalan baru dan harapan baru bagi petani kecil seperti Amri Limbong. Dengan kerja kerasnya, lelaki 58 tahun ini telah memahatkan kisah sukses itu.

Pagi itu, pertengahan September 2025, seperti biasa ayah 9 anak ini tampak sumringah menengok kebunnya. Maklumlah kebun sawit tua miliknya yang sudah tidak produktif telah berubah menjadi kebun produktif, mengantarkannya pada panen perdana dengan hasil menggembirakan: total lima ton TBS per bulan.

“Ini berkat bantuan dana hibah dari BPDPKS --- kini berubah nama menjadi BPDP --- melalui program PSR. Kalau tidak ada bantuan ini, tak sangguplah saya meremajakan sawit ini, dari mana cari duitnya,” ujar Amri Limbong penuh syukur saat berbincang dengan Elaeis Media Group di kebun sawitnya yang rindang itu. 

Amri pun berkisah. Sebelum menjadi petani sawit, ia adalah seorang pedagang kecil di Kota Subulussalam. Namun, ia melihat potensi besar dalam berkebun sawit. 

"Kalau berdagang itu ada pasang surutnya. Tapi kalau berkebun sawit, nggak ada pasang surutnya. Mau hujan mau panas, sawit tetap memberi makan. Bahkan kita sedang sakit pun, sawit memberi makan,” katanya pula, agak hiperbola, tapi fakta.

Oleh alasan itulah dia kemudian membeli lahan seluas sekitar tiga hektare di Gampong Namo Buaya, dan menanaminya sawit. 

Singkat cerita, sawitnya pun meneghasilkan, kendati tak banyak alias kurang produktif, terlebih jika dibandingkan dengan kebun korporasi. 

Maklumlah, dikelola apa adanya. Meski begitu, baginya pemasukan dari panen sawit yang kurang produktif itu sudah cukup menghidupi keluarganya.

Sempat berpindah ke Medan saat era konflik bersenjata meletup di Aceh, ia kemudian kembali ke Subulussalam pada tahun 2021. Di sinilah, tawaran untuk mengikuti program PSR datang menghampirinya.

Pada tahun 2022, Amri menerima tawaran untuk melakukan peremajaan sawit. Kebunnya yang sudah berusia 25 tahun memang sudah memerlukan peremajaan. Melalui Ketua Koperasi setempat, Netap Ginting, Amri mengurus semua persyaratan yang dibutuhkan.

Setelah menyerahkan dokumen-dokumen yang diminta, beberapa bulan kemudian ia mendapat kabar baik. Ginting mengatakan bahwa pengajuan PSR diterima, dan Amri Limbong akan mendapat bantuan dana hibah PSR dari BPDP.

"Saya dapat bantuan Rp25 juta per hektare," ungkap Amri. Ia mengaku tidak pernah tahu ada dana hibah sebesar itu sebelumnya. "Saya melihatnya sebagai rejeki nomplok, Alhamdulillah. Ini rezeki dari Allah,” suara lelaki ini bergetar. 
 
Kerja keras membuahkan hasil
Menerima dana hibah bukan berarti Amri lantas menyerahkan pekerjaan kepada orang lain. Dengan semangat swakelola, ia memutuskan untuk mengerjakan seluruh proses peremajaan secara mandiri dan semaksimal mungkin. 

"Saya tidak mau kalau orang lain yang kerjakan. Jadi saya kerjakan sendiri, mulai dari penumbangan, penanaman bibit hingga pemupukan dan pemeliharaan," ucapnya.

Kebun seluas tiga hektare lebih itu ditanami 390 bibit unggul bersertifikat dari Pusat Penelitian Sawit (PPKS) Medan. Karena melihat masih ada sedikit lahan kosong, Amri berinisiatif menanam 10 bibit tambahan yang dibeli dari temannya, sehingga totalnya menjadi 400 bibit sawit baru.

Untuk membantu agar dapur terus mengebul, di sela-sela tanaman sawit yang masih kecil Amri menanam cabai dan pisang barangan. Tapi cabai kurang bernasib baik karena harganya jatuh, Rp 7.000 sekilo, sehingga tidak dikembangkan lagi, bahkan tidak lagi dipanen sampai mati. 

Sementara pisang karena harganya bagus, dikembangkan dengan baik hingga berjumlah 2.000 batang. “Sempat berapa kali panen, adalah kira-kira 6-8 kali panennya. Dapatlah 50 tandan seminggu. Hasil panen di jual pasar di Kota Subulussalam. Lumayan, dari pisang dapatlah untuk bayar DP mobil Toyota Rush,” kenangnya. 

Seiring waktu, karena sawitnya sudah besar, pisang kalah bersaing dan akhirnya mati semua karena tak kuat melawan akar sawit. 

Syukurlah, tak makan waktu lama, habis masa panen pisang, terbitlah masa panen sawit. Rata-rata 2,5 ton TBS yang dipanen setiap dua pekan, atau sekitar 5 ton TBS  sebulan. 

Artinya mencapai 20 ton/hektare/tahun. Jauh lebih tinggi dari produktivitas kebun swadaya umumnya yang berkisar 10-12,5 ton TBS/hektare/tahun. Padahal usia tanaman sawit Amri masih terbilang muda, sekitar tiga tahun.

Menurut Amri, dengan harga jual sekitar Rp2.940/kilogram, panen sawitnya sangat berarti bagi ekonomi keluarga mereka. “Bagi kami keluarga petani kecil, hasil sawit segitu sudah cukuplah,” ucapnya bersyukur.  Untuk lebih mengoptimalkan lahannya, Amri juga membuat kolam ikan mas dan nila di sekitar kebun. 

Amri mengatakan, PSR yang dikerjakannya dengan maksimal ini terbukti membuahkan hasil seperti yang diharapkan. 

Ia berharap, kisah suksesnya dapat memotivasi pekebun lain di Subulussalam dan mengimbau teman-teman pekebun sawit yang mendapatkan bantuan PSR, untuk melaksanakan peremajaan itu dengan sebaik-baiknya agar dapat memberikan hasil yang maksimal untuk keluarga.

Kisah Amri Limbong adalah salah satu bukti nyata bahwa program PSR yang difasilitasi BPDP bukan sekadar mengganti pohon, tetapi sebuah investasi sosial dan ekonomi yang mampu mentransformasi hidup pekebun rakyat, sekaligus mengukuhkan komitmen Indonesia terhadap kelapa sawit yang berkelanjutan dan produktif.


 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :