Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) saat ini tengah diminta melakukan kajian komprehensif yang ditargetkan selesai pada Desember 2026. 

Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penambahan 10 persen Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dalam formulasi bahan bakar tersebut.

Namun, penggunaan HVO masih menghadapi persoalan keekonomian karena harganya berada di kisaran 1,5 hingga dua kali lipat dibandingkan FAME.

Sementara itu, penerapan B50 oleh KAI menunjukkan perkembangan nyata penggunaan energi berbasis sawit di sektor transportasi. 

Setelah menggunakan B40 sejak Januari 2026, KAI mulai meningkatkan campuran biodiesel menjadi B50 pada 1 Juli 2026.

Berdasarkan data KAI, sepanjang 1 Januari hingga 24 Agustus 2026, perusahaan telah menyerap sekitar 172,22 juta liter bahan bakar solar. 

Dalam 55 hari pertama penerapan B50, tambahan campuran biodiesel sebesar 10 persen menghasilkan pemanfaatan biodiesel murni sekitar 4 juta liter.

Program tersebut juga memberikan dampak terhadap pengurangan emisi. Penggunaan B50 selama periode 1 Juli hingga 24 Agustus 2026 disebut mampu mereduksi sekitar 9.000 ton emisi karbon dioksida ekuivalen dibandingkan penggunaan B40.

Keberhasilan KAI menerapkan B50 pun menjadi salah satu gambaran kesiapan penggunaan biodiesel dengan campuran yang lebih tinggi. 

Kini, pemerintah menghadapi pekerjaan besar berikutnya untuk memastikan B60 dapat diterapkan secara aman, ekonomis, dan berkelanjutan mulai 2027.