Pekanbaru, Elaeis.co - Lewat pengeras suara, drg Sulfia bertanya dengan lantang, “Ibu-ibu, dikemanakan minyak jelantah di rumah?”.

Jawaban ibu-ibu peserta Seminar dan Pelatihan Eco Enzyme yang digelar Universitas Abdurrab bersama Yayasan Budaya Hijau Indonesia dan Relawan Eco Enzyme Indonesia (REEI), di Pekanbaru, Sabtu (15/1), hanya dua.

Ada seorang ibu yang mengaku menjual jelantah atau minyak goreng bekas ke pengumpul. Sementara beberapa peserta pelatihan lainnya menyebut jelantah berakhir di selokan.

“Bagi yang kenal pengepul, tentu akan menjual jelantah. Tapi kebanyakan ibu-ibu tidak punya akses ke pengumpul jelantah, alhasil mereka membuangnya ke parit,” kata Sulfia, yang menjadi instruktur pada pelatihan itu.

“Semua jelantah yang dibuang akan terkumpul di lautan, menjadi limbah yang sulit terurai secara alamiah,” tambahnya.

Dia lalu menjelaskan bahwa jelantah sebenarnya bisa dipakai ulang setelah terlebih dahulu dicuci. “Pencucian bertujuan menghilangkan zat karsinogen yang bisa memicu kanker,” jelasnya.

Bahan yang bisa digunakan untuk mencuci jelantah adalah daun salam segar, daun bayam segar, daun pepaya segar, dan daun kunyit segar. Panci yang digunakan untuk proses pencucian jelantah tidak boleh terbuat dari logam, harus berbahan kaca.

Seluruh bahan tersebut dimasukkan bersama minyak jelantah ke dalam panci lalu dipanaskan menggunakan kompor. Sesekali diaduk menggunakan sutil kayu agar semua bahan terendam.

Proses pemanasan berlangsung sekitar 45 menit atau hingga dedaunan kelihatan seperti sudah kering. Lalu disaring dan jelantah yang semula hitam akan kelihatan jernih kembali.

Sulfia menegaskan bahwa proses pencucian tersebut tidak mengembalikan kandungan nutrisi minyak goreng. “Nutrisinya sudah hilang saat digunakan menggoreng pertama kali,” sebutnya.

“Tapi minyak jadi beraroma dan bisa dipakai hingga tetesan terakhir karena zat yang bisa menyebabkan kanker sudah dibersihkan,” imbuhnya.