Untuk menggambarkan cara kerja formula tersebut, Adzmi memberikan contoh perhitungan berdasarkan sejumlah asumsi harga.
Dalam simulasi itu, harga CPO local delivery berada di angka RM4.000 per ton.
Setelah memperhitungkan export charge RM16 per ton dan biaya transportasi CPO RM80 per ton, nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan OER sebesar 18 persen.
Hasilnya, komponen minyak memberikan nilai sekitar RM702,72 untuk setiap ton TBS.
Namun, perhitungan tidak berhenti di minyak sawit saja. Ada pula nilai dari palm kernel yang ikut diperhitungkan.
Dengan asumsi harga palm kernel RM3.500 per ton dan kernel extraction rate sebesar 5 persen, komponen kernel menghasilkan nilai RM175 per ton TBS.
Kedua komponen tersebut kemudian dihitung bersama. Setelah dikurangi biaya pengolahan sebesar RM95 per ton, muncul harga bersih indikatif sebesar RM782,72 per ton TBS.
Angka ini bukan berarti seluruh pekebun otomatis menerima nominal yang sama. Nilai tersebut merupakan harga indikatif berdasarkan formula MPOB. Harga yang benar-benar diterima di lapangan masih bisa berubah.
Kualitas buah, hasil grading, jarak kebun ke tempat penyerahan, biaya logistik hingga aturan transaksi antara pekebun dan pembeli tetap menjadi faktor pembeda.
Karena itu, menurut Adzmi, pekebun perlu memahami dari mana angka harga TBS tersebut berasal.
“Yang penting bagi pekebun adalah memahami bahwa harga TBS bukan sekadar angka yang ditetapkan di tingkat pembeli. Ada formula, ada kualitas buah, ada OER, ada biaya pemasaran dan logistik yang semuanya berpengaruh terhadap nilai yang diterima pekebun,” katanya.
Ini Alasan TBS Sawit Malaysia Bisa Dibayar Lebih Mahal
Diskusi pembaca untuk berita ini