https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Gulma di Bawah Sawit Ternyata Harta Karun! Pakar UGM Bongkar Solusi Murah Pakan Ternak Nasional

Gulma di Bawah Sawit Ternyata Harta Karun! Pakar UGM Bongkar Solusi Murah Pakan Ternak Nasional


Yogyakarta, elaeis.co – Di tengah melonjaknya harga pakan ternak dan tingginya ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku, ruang hijau di bawah tegakan kelapa sawit justru masih kerap dipandang sebelah mata. 

Gulma dianggap pengganggu, dibersihkan, disemprot, lalu dilupakan. Padahal, di sanalah tersimpan “harta karun” yang bisa menjadi solusi murah pakan ternak nasional.

Pakar Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Bambang Suhartanto, menegaskan bahwa area gulma di bawah sawit menyimpan potensi hijauan pakan yang sangat besar. Dengan luas perkebunan kelapa sawit Indonesia yang mencapai sekitar 15 juta hektare, cadangan pakan ternak sebenarnya melimpah, hanya saja belum dimanfaatkan secara optimal.

“Selama ini orientasi banyak perusahaan sawit masih sebatas produksi tandan buah segar. Padahal, ruang di bawah sawit itu bisa dimanfaatkan untuk ternak, khususnya sapi,” kata Bambang.

Menurut dia, Indonesia berbeda dengan negara-negara yang memiliki padang penggembalaan luas. Di Tanah Air, lahan harus berebut antara pangan, permukiman, dan industri. Akibatnya, biaya pakan ternak membengkak dan pada akhirnya mendorong harga daging serta susu ikut melambung.

“Kalau kita bicara harga daging atau susu mahal, ujungnya selalu pakan. Pakan itu komponen biaya terbesar. Selama persoalan pakan tidak diselesaikan, kita akan terus tergantung impor dan harga akan selalu tinggi,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, integrasi sawit-ternak bisa menjadi jalan keluar. Dalam sistem ini, sapi digembalakan di bawah tegakan sawit untuk memakan gulma. Sebaliknya, kotoran dan urin ternak berfungsi sebagai pupuk organik yang mengembalikan nutrisi ke tanah.

“Ini sebenarnya konsep lama, tapi implementasinya belum luas. Kalau diatur dengan baik, sapi membantu mengendalikan gulma, perusahaan sawit menghemat biaya penyiangan, peternak dapat pakan murah. Tanah sawit tetap subur. Simbiosis,” jelasnya.

Tak hanya soal efisiensi ekonomi, integrasi ini juga membawa dampak ekologis. Dengan kembalinya bahan organik ke tanah, siklus hara lebih terjaga dan ketergantungan pada pupuk kimia bisa ditekan.

“Ini sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan, bahkan biodinamik. Tanah bukan sekadar media tanam, tapi ekosistem hidup yang harus dijaga keseimbangannya,” tambah Bambang.

Namun, ia mengakui masih banyak perusahaan sawit yang memandang integrasi ternak sebagai beban tambahan, bukan investasi jangka panjang. Padahal, di tengah tekanan global terkait isu lingkungan, deforestasi, dan keberlanjutan, model integrasi sawit-ternak justru semakin relevan.

“Kalau perusahaan mau berpikir lebih jauh, integrasi ternak ini bisa menjadi bagian dari tanggung jawab lingkungan sekaligus strategi ekonomi. Bukan hanya sawit yang dihasilkan, tapi juga daging, susu, dan sistem pangan yang lebih mandiri,” tandasnya.

Pandangan senada disampaikan Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Nafiatul Umami. Ia menekankan bahwa persoalan pakan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga kualitas nutrisi.

“Rumput tropis memang menghasilkan biomassa besar, tapi sering kali kandungan nutrisinya rendah,” ujarnya.

Karena itu, Umami menilai rekayasa dan pemuliaan tanaman pakan menjadi kunci agar hijauan yang tumbuh di bawah sawit atau di lahan marginal tetap berkualitas. Menurut dia, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan rumput alami.

“Kita perlu tanaman pakan yang adaptif di lahan kering, di bawah sawit, di lahan marginal, tapi juga punya kualitas nutrisi yang baik,” katanya.

Ia mencontohkan pengembangan rumput gajah varietas Gamma Umami yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Varietas ini dirancang adaptif di berbagai kondisi, memiliki kandungan gula lebih tinggi, disukai ternak, serta mampu tumbuh kembali dengan cepat setelah dipotong.

Umami menambahkan, integrasi sawit-ternak akan semakin efektif jika didukung pemanfaatan limbah sawit, seperti bungkil inti sawit, sebagai pakan tambahan. Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor jagung dan bungkil kedelai bisa ditekan.

“Prinsipnya sederhana. Ternak mau makan dan peternak mau menanam. Kalau dua itu tidak ketemu, teknologi sehebat apa pun tidak akan dipakai,” pungkasnya.

Di tengah ambisi swasembada daging dan susu, gulma di bawah sawit yang selama ini dianggap masalah justru bisa menjadi kunci.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :