Jakarta, elaeis.co - Kinerja industri kelapa sawit nasional kembali menunjukkan tren positif di awal 2026. Data terbaru dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, ekspor produk sawit Indonesia pada Februari 2026 mengalami kenaikan 7% dibanding bulan sebelumnya.
Menariknya, lonjakan ini didorong kuat oleh permintaan dari pasar global seperti China hingga kawasan Eropa.
Berdasarkan laporan resmi GAPKI, volume ekspor pada Februari mencapai 3,297 juta ton, naik dari Januari yang sebesar 3,081 juta ton.
Kenaikan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih fluktuatif, menandakan daya saing sawit Indonesia tetap terjaga.
“Peningkatan ekspor terjadi pada hampir seluruh produk, termasuk olahan minyak inti sawit, CPO, hingga oleokimia,” tulis GAPKI dalam keterangannya, Selasa (21/4).
Secara rinci, ekspor olahan minyak inti sawit melonjak paling tinggi hingga 36,60%. Disusul crude palm oil (CPO) yang naik 18,98%, olahan minyak sawit sebesar 4,37%, serta produk oleokimia yang tumbuh 2,67%.
Kalau ditarik lebih jauh, kinerja ekspor ini makin terlihat moncer secara tahunan. Hingga Februari 2026, total ekspor sawit RI mencapai 6,378 juta ton atau melonjak 33,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,761 juta ton. Angka ini jadi sinyal kuat bahwa permintaan global terhadap sawit Indonesia masih sangat besar.
Dari sisi pasar tujuan, peningkatan ekspor terbesar tercatat ke sejumlah negara dan kawasan utama. China, Malaysia, Uni Eropa, India, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah menjadi motor utama pertumbuhan ekspor Februari.
Permintaan dari China dan Uni Eropa bahkan disebut sebagai faktor dominan yang mendorong kenaikan volume secara signifikan. Kedua kawasan ini terus menyerap produk sawit Indonesia, baik untuk kebutuhan pangan, energi, maupun industri.
Namun, tidak semua pasar mencatat tren positif. GAPKI mencatat ekspor ke Pakistan, Afrika, Bangladesh, dan Rusia justru mengalami penurunan pada periode yang sama.
Meski begitu, secara kumulatif tahunan, kenaikan ekspor tetap lebih besar dibandingkan penurunan, sehingga neraca perdagangan sawit Indonesia masih solid.
Tak cuma volume, nilai ekspor juga ikut terdongkrak. Pada Februari 2026, nilai ekspor sawit Indonesia mencapai US$3,69 miliar, naik 9,70% dibanding Januari yang sebesar US$3,36 miliar.
Secara kumulatif hingga Februari, nilai ekspor sudah menyentuh US$7,05 miliar atau meningkat 28,88% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$5,47 miliar.
Kenaikan ini bukan hanya didorong oleh volume ekspor, tapi juga harga jual yang lebih tinggi. Rata-rata harga CPO pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$1.306 per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang berada di level US$1.218 per ton.
Kombinasi antara volume dan harga ini jadi “double engine” yang mendorong kinerja ekspor sawit nasional tetap melaju kencang.
Sejalan dengan ekspor, produksi juga mengalami peningkatan. Pada Februari 2026, produksi CPO mencapai 5,015 juta ton, naik 4,96% dari Januari. Sementara produksi PKO ikut naik menjadi 485 ribu ton.
Total produksi CPO dan PKO pada Februari mencapai 5,5 juta ton, naik sekitar 5,04% dibanding bulan sebelumnya.
Dari sisi domestik, konsumsi dalam negeri juga tumbuh 9,55% menjadi 2,305 juta ton. Kenaikan terbesar terjadi pada sektor pangan yang melonjak hingga 16,55%.
Konsumsi biodiesel pun meningkat 7,12%, meski oleokimia justru mengalami sedikit penurunan.
Di tengah produksi dan ekspor yang meningkat, stok akhir justru mengalami penurunan. Hingga akhir Februari 2026, stok tercatat sebesar 2,026 juta ton, lebih rendah dibandingkan Februari tahun lalu yang mencapai 2,25 juta ton.
Penurunan stok ini jadi indikasi kuat bahwa permintaan pasar, baik domestik maupun global, sedang tinggi.
Dengan tren ini, industri sawit Indonesia diperkirakan masih akan terus bertumbuh dalam beberapa bulan ke depan. Tantangannya tinggal bagaimana menjaga stabilitas produksi, harga, dan keberlanjutan agar momentum positif ini tidak terhenti di tengah jalan.
Ekspor Sawit RI Februari 2026 Naik 7, China hingga Eropa Jadi Motor
Diskusi pembaca untuk berita ini