Hilirisasi Jadi Kunci
Christiantoko menyebut percepatan hilirisasi menjadi salah satu kunci untuk menjaga penerimaan devisa ketika volume ekspor komoditas mentah mengalami tekanan.
Terlebih, DSI tengah menata perannya sebagai single window dalam tata kelola perdagangan.
Dengan hilirisasi, Indonesia diharapkan tak hanya bergantung pada volume pengiriman komoditas mentah. Produk dengan nilai tambah lebih tinggi bisa menjadi sumber penerimaan ekspor yang lebih kuat.
“Percepatan hilirisasi produk bernilai tambah tinggi menjadi kunci utama untuk mempertahankan penerimaan devisa di tengah keterbatasan volume ekspor komoditas mentah,” ujarnya.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali mencatat surplus US$120 juta. Angka tersebut menjadi pembalikan setelah pada Juni 2026 Indonesia mengalami defisit US$450 juta.
Secara kumulatif Januari-Juli 2026, neraca perdagangan masih surplus US$3,70 miliar.
Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas yang mencapai US$22,45 miliar. Namun, surplus itu tergerus defisit sektor migas sebesar US$18,75 miliar.
Dengan kondisi tersebut, penguatan fungsi DSI dinilai menjadi semakin penting. Integrasi data, pengawasan devisa, kepastian regulasi, efisiensi rantai pasok, hingga percepatan hilirisasi menjadi sejumlah pekerjaan yang perlu diperkuat agar tekanan volume ekspor tak berujung pada pelemahan penerimaan devisa Indonesia.
Ekspor Sawit-Batu Bara Makin Seret, DSI Dituntut Bertindak
Diskusi pembaca untuk berita ini