Berita / KELINDAN KATA /
Dunia yang Kita Bela, Dunia yang Kita Pahami?
Foto ilustrasi AI

--Sudarsono Soedomo--
Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang merasa sudah “tahu”. Tahu mana yang benar, mana yang salah. Tahu mana yang berkelanjutan, mana yang berdosa. Tahu mana yang ilmiah, mana yang tidak. Anehnya, keyakinan itu sering jauh lebih kuat daripada pengalaman langsung. Kita membela hutan yang belum pernah kita masuki, mengecam deforestasi yang lokasinya tidak kita kenali, dan mengutuk kebijakan yang detailnya tidak pernah kita baca. Dunia yang kita bela, sering kali bukan dunia yang kita pahami—melainkan dunia yang diceritakan kepada kita.
Di sinilah persoalan cuci otak modern bekerja dengan sangat elegan. Tidak ada paksaan, tidak ada larangan berpikir, tidak ada slogan kasar. Yang ada justru sebaliknya: laporan, indeks, sertifikasi, kerangka kerja, dan istilah-istilah yang terdengar sangat rasional. Kita tidak diperintahkan untuk percaya, tetapi secara halus diarahkan untuk *tidak bertanya terlalu jauh*. Pertanyaan masih boleh diajukan, asal tidak menyentuh fondasi narasi.
Ciri utama cuci otak modern bukanlah kebohongan, melainkan gantungan. Manusia diajak bersandar pada otoritas: lembaga internasional, konsensus global, atau standar yang “sudah disepakati dunia”. Bersandar itu terasa aman. Tidak melelahkan. Tidak berisiko. Jika keliru, selalu ada tempat berlindung: “Saya hanya mengikuti standar.” Di titik ini, berpikir mandiri terasa seperti tindakan nekat—bahkan tidak sopan.
Padahal, ketergantungan pada gantungan inilah yang justru mematikan kedaulatan berpikir. Ketika seseorang tidak lagi berani berdiri di atas penalarannya sendiri, cara ia melihat dunia pelan-pelan dibentuk oleh cerita yang paling sering ia dengar, bukan oleh realitas yang ia hadapi. Dunia menjadi seragam, rapi, dan mudah dipetakan—namun sering kehilangan manusia di dalamnya.
Yang lebih menarik, cuci otak modern justru berwajah sangat manusiawi. Ia berbicara tentang keberlanjutan, keadilan, masa depan anak cucu. Siapa yang berani menolak? Tetapi di balik wajah yang ramah itu, ada kecenderungan berbahaya: mengubah persoalan kompleks menjadi hitam-putih, dan menilai realitas lokal dengan kacamata universal yang tidak selalu pas ukurannya.
Berpikir mandiri sering disalahpahami sebagai sikap anti-ilmu atau anti-global. Padahal tidak. Berpikir mandiri justru menuntut disiplin yang lebih tinggi: membaca lebih dalam, menimbang lebih lama, dan berani berbeda tanpa merasa suci. Ia tidak menolak rujukan, tetapi menolak bersandar. Ia menggunakan standar, tetapi tidak bersembunyi di baliknya.
Mungkin masalah terbesar kita hari ini bukan kekurangan data atau regulasi, melainkan keberanian untuk berpikir pelan. Mengendapkan sebelum bereaksi. Menunda kesimpulan sebelum ikut berteriak. Karena sekali persepsi terbentuk, ia cenderung mengatur bagaimana informasi baru ditata di dalam kepala kita. Di situlah cuci otak paling berhasil: ketika kita merasa bebas, padahal cara melihat dunia sudah ditentukan lebih dahulu.
Barangkali, kebebasan berpikir dimulai dari satu langkah kecil yang terasa sepele namun revolusioner: berani berkata, “Tunggu dulu. Saya ingin memahami, bukan sekadar ikut membela.”
(mBanyuwangi, 12022026)








Komentar Via Facebook :