Jakarta, Elaeis.co - PT Sampoerna Agro Tbk, emiten sawit di bursa saham dengan kode SGRO, mendapatkan cuan atau untung banyak sepanjang tahun ini.

Budi Halim dan Heri dari PT Sampoerna Agro dalam pemaparannya di acara Public Expose (PUBEX) 2021 yang digelar BEI, Jumat (10/9/2021), menyebutkan, ada dua faktor yang membuat SGRO meraup cuan banyak.

"Program B-30 menopang penjualan minyak mentah sawit atau crude palm oil (CPO) produksi Sampoerna Agro," kata Halim menyebutkan faktor pertama. 

Program B-30 yang dimaksud Halim adalah mandatori atau kewajiban pengembangan biodiesel berbasis CPO yang ditetapkan pemerintah dan dilaksanakan oleh BPDPKS dengan melibatkan sejumlah perusahaan sawit nasional dan pihak PT Pertamina.

Faktor kedua, sepanjang tahun 2021 produksi dan harga minyak nabati lainnya mengalami penurunan. Para produsen minyak nabati non-sawit umumnya berasal dari benua Amerika dan Eropa.

Ini menjadi peluang besar bagi para produsen minyak sawit yang di saat yang sama justru memiliki produksi CPO yang tinggi.

Halim dan Heri tidak menyebutkan ke mana CPO mereka dijual. Namun sepanjang tahun 2021 ini penjualan CPO mereka mencapai Rp 2.214,31 miliar, naik 65% dibanding tahun 2020 yang mencapai Rp 1.345 miliar.

Secara umum, penjualan CPO itu mendominasi pendapatan Sampoerna Agro, yakni mencapai 83%. Volume produksi CPO SGRO tercatat mencapai 208.000 ton, naik 35% dibanding tahun 2020 yang mencapai 154.000 ton.

"Adapun harga jual rata-rata CPO adalah Rp 10.004 per kilogram, naik 19% dari tahun lalu yang hanya Rp 8.409 per kilogram," ujar Halim.

Selain dari CPO, pihaknya pun meraup untung dari penjualan palm kernel (PK) yang meraup Rp 314,004 miliar, naik 93% dibanding tahun 2020 yang mencapai Rp 163 miliar.

"Penjualan PK menyumbang 12% dari total pendapatan kami," jelasnya.

Ia mengungkapkan, tahun ini pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi kinerja dan penjualan produk turunan sawit Sampoerna Agro. Beda dengan tahun lalu saat sejumlah negara melakukan lockdown.

Halim mengakui pendapatan yang diperoleh SGRO tahun ini di atas ekspektasi. "Bahkan pendapatan tahun ini melampaui puncak level," ujarnya.

Agar tetap meraup cuan, SGRO melakukan sejumlah langkah, termasuk di antaranya menyeimbangkan proporsi panen antara kebun sawit mereka yang ada di Pulau Sumatera dan Kalimantan. 

Kemudian, pihaknya memastikan pengelolaan perkebunan sawit dilakukan tetap sesuai dengan prinsip berkelanjutan, termasuk memenuhi semua kriteria yang ditetapkan dalam sertifikasi New ISPO dan RSPO.