Berita / Iptek /
Di Balik Awetnya Fuel Pump dan Mesin Kendaraan Berat, Ada Sentuhan Bioaditif Nabati SBRC IPB
Kunjungan awak media ke SBRC IPB University. Foto: Taufik Alwie
Di balik halusnya tarikan mesin sebagian bus antarkota, truk logistik, hingga alat berat di pertambangan, ternyata tersimpan peran teknologi berbasis minyak nabati. Itulah bioaditif berbahan minyak atsiri hasil riset peneliti dalam negeri yang membantu melindungi fuel pump dari risiko mampet sekaligus membuat pelumasan mesin lebih optimal sehingga usia pakai mesin lebih panjang.
Temuan inovatif ini terungkap kembali saat rombongan awak media berkunjung ke Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University di Bogor, Jumat sore, 6 Februari 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan BPDP.
Rombongan dipimpin Pemred Majalah Sawit Indonesia Qayuum Amri, diterima oleh Sekretaris SBRC Dwi Setyaningsih serta peneliti Neli Muna. Usai paparan di ruang rapat, para jurnalis diajak melihat langsung aktivitas laboratorium untuk memahami proses riset biodiesel dan turunannya.
Bioaditif: perawat sistem bahan bakar
Dalam pemaparannya di ruang rapat SBRC, Dwi Setyaningsih menjelaskan bahwa pengembangan biodiesel saat ini tidak hanya berfokus pada substitusi energi fosil, tetapi juga pada peningkatan mutu bahan bakar agar lebih ramah terhadap mesin.
Salah satu hasil riset penting SBRC adalah bioaditif berbasis minyak atsiri yang dicampurkan ke dalam biosolar. Aditif alami ini membantu menekan pembentukan deposit dan kontaminan yang kerap menjadi penyebab penyumbatan fuel pump dan filter bahan bakar. Di sisi lain, karakter bioaditif juga mendukung kualitas pembakaran dan pelumasan, yang berkontribusi pada keawetan mesin.
Penggunaan bioaditif ini telah diuji pada kendaraan operasional, termasuk bus dan kapal, dengan hasil yang menunjukkan perbaikan performa bahan bakar. Produk bioaditif SBRC juga telah melalui pengujian Carbon-14 serta dinyatakan sesuai standar mutu nasional.
Menurut Dwi, inovasi semacam ini penting karena tantangan biodiesel di lapangan kerap berkaitan dengan kualitas selama penyimpanan dan distribusi, seperti peningkatan kadar air dan kontaminan. “Bioaditif ini menjadi salah satu solusi teknis untuk menjaga stabilitas mutu biodiesel,” kata Dwi Setyaningsih.
Biodiesel yang ramah lingkungan
Dalam kesempatan itu Dwi Setyaningsih juga memaparkan riset biodiesel. Ia menekankan bahwa biodiesel bukan sekadar instrumen energi, melainkan alat diplomasi iklim dan penggerak ekonomi nasional. Saat ini, SBRC tengah bekerja sama dengan Kementerian ESDM untuk menyusun perhitungan emisi gas rumah kaca lifecycle untuk BBN berbasis sawit.
"Langkah ini penting agar biodiesel sawit diakui oleh International Maritime Organization (IMO) sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan atau sustainable biofuel," ujar Dwi. Pengakuan internasional ini sangat strategis untuk memperkuat citra positif sawit Indonesia di pasar global dan mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
SBRC IPB telah lama dikenal sebagai pusat riset surfaktan dan bioenergi. Penelitiannya mencakup biodiesel, bioavtur, bioetanol, bioaditif, katalis, hingga pemanfaatan biomassa dari limbah pertanian dan perkebunan.
SBRC juga terlibat dalam kajian life cycle analysis emisi gas rumah kaca untuk bahan bakar nabati berbasis sawit. Kajian ini menjadi bagian penting dalam upaya Indonesia mendorong pengakuan biodiesel sawit sebagai bahan bakar berkelanjutan di forum internasional seperti International Maritime Organization (IMO).
Selain laboratorium di kampus IPB, SBRC memiliki fasilitas produksi biodiesel skala pilot di Gunung Putri dengan kapasitas beberapa ton per hari sebagai bagian dari hilirisasi hasil riset.
Proses produksi yang presisi
Dalam sesi laboratorium, Neli Muna memperagakan proses pembuatan biodiesel melalui transesterifikasi. Minyak sawit dipanaskan pada suhu 55–60°C lalu direaksikan dengan metanol dan katalis. Stabilitas suhu dijaga untuk mencegah terbentuknya sabun.

Setelah reaksi sekitar satu jam, campuran akan terpisah menjadi metil ester (biodiesel) dan gliserol. Biodiesel kemudian dimurnikan melalui pencucian air hangat berulang hingga mencapai pH netral, lalu dikeringkan agar siap digunakan.
Neli juga mengungkapkan bahwa tantangan biaya produksi masih dipengaruhi harga katalis impor. Karena itu, SBRC meneliti alternatif katalis dari biomassa dan alga, serta upaya meningkatkan nilai tambah sawit melalui ekstraksi senyawa bernilai tinggi sebelum diolah menjadi biodiesel.
Harus diakui, di tingkat yang lebih luas, riset SBRC memperkuat posisi biodiesel sawit sebagai bagian dari strategi transisi energi, pengurangan emisi, sekaligus hilirisasi sawit bernilai tambah tinggi. Kolaborasi antara peneliti, industri, dan pemerintah dinilai menjadi kunci agar inovasi tersebut memberi dampak nyata di lapangan maupun dalam diplomasi energi global.-







Komentar Via Facebook :