Berita / Bisnis /
CPO Melonjak, Tapi Devisa Belum Menjamin Kesejahteraan Petani
Andi Setyo Pambudi, Perencana Ahli Utama Kementerian PPN/Bappenas.
Jakarta, elaeis.co – Indonesia kembali menegaskan dominasinya sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan volume mencapai 46 juta metrik ton, setara 58 persen produksi global.
Data ini menunjukkan keunggulan Indonesia di pasar Crude Palm Oil (CPO) internasional, namun peningkatan devisa dari komoditas ini belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan petani sawit kecil.
Andi Setyo Pambudi, Perencana Ahli Utama Kementerian PPN/Bappenas, menekankan bahwa meski industri sawit menjadi motor penggerak ekonomi nasional, tantangan sosial masih cukup besar.
“Perkebunan sawit menyediakan mata pencaharian bagi jutaan warga di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun petani kecil masih menghadapi keterbatasan modal, akses teknologi, fluktuasi harga, dan posisi tawar yang lemah terhadap perusahaan pengolahan,” ujarnya, Jumat (20/2).
Lebih dari empat juta pekerja menggantungkan hidup pada industri sawit, sementara jutaan keluarga menikmati putaran ekonomi dari komoditas ini.
“Sementara devisa yang dihasilkan sawit bernilai miliaran dolar tiap tahun, kenyataannya distribusi manfaat ekonomi masih belum merata,” tambah Andi.
Secara ekonomi, kelapa sawit berperan penting dalam mendukung industri hilir seperti minyak goreng, oleokimia, kosmetik, hingga biodiesel.
Kondisi geografis Indonesia yang mendukung menjadikan tanaman ini lebih efisien dibandingkan penghasil minyak nabati lain, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain global yang sulit disaingi.
Namun, Andi menyoroti bahwa dominasi produksi tidak otomatis berarti kesejahteraan petani meningkat.
“Kenaikan harga CPO di pasar internasional memang menambah devisa negara, tetapi petani kecil sering tetap menghadapi ketidakpastian harga dan akses pasar yang terbatas. Ini menjadi PR besar bagi pemerintah dalam menyeimbangkan pertumbuhan industri dan keadilan sosial,” jelasnya.
Selain aspek sosial dan ekonomi, faktor lingkungan menjadi sorotan penting. Pembukaan lahan yang tidak terkendali, hilangnya tutupan hutan, dan kerusakan lahan gambut telah memicu kritik dari berbagai pihak.
Beberapa wilayah di Kalimantan menunjukkan penurunan tutupan pohon secara signifikan, mengindikasikan ekspansi perkebunan yang berpotensi merusak ekosistem.
Andi Setyo Pambudi menekankan pentingnya praktik berkelanjutan untuk menghadapi tuntutan global.
“Penguatan sertifikasi ISPO, penegakan hukum terhadap praktik ilegal, serta restorasi ekosistem menjadi kunci agar industri sawit tetap ramah lingkungan. Teknologi pemantauan lahan dan pendekatan konservasi dapat meminimalkan kerusakan sekaligus menjaga produktivitas,” ungkapnya.
Pemerintah kini berada di persimpangan penting. Dengan menguasai lebih dari separuh pasokan dunia, Indonesia memiliki peluang untuk menentukan standar industri global dan memperkuat posisi diplomasi perdagangan. Namun pencapaian ini harus diimbangi dengan perlindungan petani, peningkatan hilirisasi, dan pemeliharaan lingkungan.
Andi menegaskan, sawit bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi sosial dan ekologi yang krusial.
“Jika kesejahteraan petani ditingkatkan, hilirisasi ekonomi diperkuat, dan perlindungan lingkungan dijalankan dengan serius, sawit bisa menjadi simbol keberhasilan pembangunan nasional yang berkelanjutan,” jelasnya.
Tantangan terbesar, menurut Andi, adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan.
“Dominasi produksi CPO harus disertai praktik berkelanjutan agar industri sawit tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup petani dan menjaga masa depan generasi mendatang,” pungkasnya.







Komentar Via Facebook :