https://www.elaeis.co

Berita / Pasar /

CPO Loyo di Awal Pekan, Pasar Tahan Napas Jelang Rilis Data Ekspor Sawit

CPO Loyo di Awal Pekan, Pasar Tahan Napas Jelang Rilis Data Ekspor Sawit


Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melemah di awal pekan. Senin (19/1/) siang, pasar tampak melangkah pelan, seperti menahan napas, menunggu satu petunjuk penting yaitu data ekspor terbaru.

Di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman April turun 0,34 persen ke level 4.057 ringgit Malaysia per ton pada pukul 12.13 WIB. Koreksi ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga sempat melesat 2,31 persen pada Jumat pekan lalu.

Meski bergerak loyo, peluang teknikal belum sepenuhnya tertutup. AmInvestment Bank mencatat, secara teknikal kontrak CPO masih punya ruang untuk bergerak lebih tinggi. Penguatan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade pada akhir pekan lalu, ditambah naiknya harga minyak mentah, dinilai bisa menjadi penopang sentimen.

“Permintaan ekspor yang membaik serta ekspektasi perlambatan pertumbuhan produksi dalam beberapa pekan ke depan berpotensi memberikan dukungan harga,” tulis AmInvestment Bank, dikutip dari Dow Jones Newswires.

Lembaga tersebut memetakan area support CPO di kisaran 4.004 ringgit per ton, sementara resistance berada di level 4.114 ringgit per ton. Artinya, ruang gerak masih terbuka, tapi pasar tampaknya belum berani melangkah jauh.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis estimasi ekspor minyak sawit periode 1–20 Januari yang dijadwalkan keluar Selasa, berdasarkan laporan Reuters. Data ini dipandang krusial untuk membaca arah permintaan global di awal tahun.

Di pasar lain, pergerakan minyak nabati cenderung positif. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,4 persen, sementara kontrak minyak sawitnya menguat 0,37 persen. 

Sementara itu, perdagangan minyak kedelai di Chicago Board of Trade libur karena hari libur nasional. Pergerakan CPO sendiri kerap mengikuti arah minyak nabati pesaingnya, mengingat ketatnya persaingan di pasar global.

Harga minyak mentah dunia relatif stabil setelah menguat pada Jumat. Meredanya keresahan sipil di Iran menyusutkan kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah, sekaligus menurunkan risiko konflik yang melibatkan Amerika Serikat. Minyak mentah yang lebih kuat biasanya membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Dari sisi nilai tukar, ringgit Malaysia tercatat stabil terhadap dolar AS. Stabilitas mata uang ini turut membantu menahan tekanan lebih dalam pada harga CPO.

Sementara itu, dari ranah kebijakan, Amerika Serikat resmi mencabut larangan terhadap perusahaan sawit Malaysia, FGV Holdings, setelah menilai perusahaan tersebut telah mengambil langkah perbaikan terkait tuduhan praktik kerja paksa.

Di sisi korporasi, Genting Plantations Bhd mengungkapkan bahwa anak usaha tidak langsungnya di Indonesia, PT Susantri Permai, dikenai sanksi administratif sebesar Rp396 miliar oleh pemerintah Indonesia, atau setara sekitar USD23,46 juta.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :