Berita / Nusantara /
CPO Jadi Pengganti Nafta? Amran Sulaiman Sebut Bisa Buka Peluang Besar Industri Plastik
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Jakarta, elaeis.co – Wacana pemanfaatan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai substitusi nafta untuk bahan baku industri plastik mulai menguat.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyatakan dukungan terhadap peluang tersebut di tengah tantangan pasokan bahan baku petrokimia global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia memiliki ketersediaan CPO yang sangat mencukupi untuk mendukung kebutuhan industri dalam negeri, termasuk sebagai alternatif bahan baku plastik.
Ia menyebut, produksi CPO nasional yang besar, bahkan dengan ekspor mencapai sekitar 32 juta ton pada 2025, membuka ruang untuk mengalokasikan sebagian pasokan bagi kebutuhan industri domestik tanpa mengganggu ketersediaan nasional.
“Bahan baku kita cukup, bahkan lebih dari cukup. Tinggal kita alokasikan sesuai kebutuhan,” ujar Amran di Jakarta, Kamis (16/4).
Menurutnya, pemanfaatan CPO sebagai pengganti nafta bukan hal yang mustahil, terutama saat terjadi gangguan pasokan global bahan baku industri petrokimia. Namun, Ia menekankan bahwa skema tersebut harus tetap mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan ekspor dan domestik.
Lebih jauh, Kementerian Pertanian memastikan bahwa pemanfaatan CPO untuk sektor industri baru tidak akan mengganggu ketahanan pasokan pangan maupun merusak ekosistem perkebunan.
Pengembangan sawit, kata dia, akan diarahkan pada lahan tidak produktif atau lahan gundul. “Kita prioritaskan lahan yang tidak berhutan. Ini sekaligus memberi nilai tambah ekonomi,” tambahnya.
Sebelumnya, dukungan terhadap ide substitusi ini juga datang dari Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan CPO sebagai bahan baku alternatif industri petrokimia, meski saat ini masih dalam tahap kajian teknis dan kebijakan.
Sementara itu, pelaku industri menilai peluang ini dapat menjadi langkah strategis hilirisasi sawit nasional, namun tetap memerlukan kajian mendalam terkait efisiensi teknologi, biaya produksi, serta dampaknya terhadap rantai pasok pangan dan energi.
Dengan dorongan pemerintah tersebut, CPO kini tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekspor utama, tetapi juga mulai diarahkan menjadi bahan baku strategis industri kimia masa depan di dalam negeri.









Komentar Via Facebook :