https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Bisnis /

Bensin Sawit RON 105–112 Siap Geser Pertalite dan Pertamax

Bensin Sawit RON 105–112 Siap Geser Pertalite dan Pertamax


Jakarta, elaeis.co – Di tengah lonjakan kebutuhan energi global, Indonesia mulai melirik jalur baru yang tak biasa: mengubah minyak sawit menjadi bensin beroktan tinggi. 

Inovasi bernama Bensin Sawit atau “Bensa” kini mencuri perhatian karena diklaim memiliki angka oktan hingga RON 105–112—melampaui bensin konvensional seperti Pertalite dan Pertamax.

Bensa merupakan bahan bakar nabati (biofuel) yang dihasilkan dari pengolahan Crude Palm Oil (CPO) melalui proses catalytic cracking atau perengkahan katalitik. Dalam proses ini, molekul besar dalam minyak sawit dipecah menjadi hidrokarbon ringan yang setara dengan fraksi bensin.

Pengembangan teknologi ini melibatkan sejumlah lembaga riset dalam negeri, termasuk Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Keduanya mengembangkan metode konversi berbasis katalis nasional, yang dikenal sebagai Katalis Merah Putih.

Secara teknis, produksi Bensa dilakukan melalui beberapa tahap, mulai dari pemanasan minyak sawit pada suhu tinggi sekitar 400–500 derajat Celsius, penggunaan katalis untuk mempercepat reaksi kimia, hingga pemecahan molekul trigliserida menjadi hidrokarbon ringan. Hasil akhirnya kemudian dipisahkan menjadi berbagai produk, termasuk bensin, diesel, dan gas.

Dari sisi performa, angka oktan tinggi menjadi nilai jual utama. Dengan RON di atas 100, Bensa dinilai mampu menghasilkan pembakaran lebih sempurna, meningkatkan efisiensi mesin, sekaligus menekan emisi gas buang.

Selain itu, sebagai energi berbasis nabati, Bensa juga membawa keunggulan dari sisi keberlanjutan. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang kian menipis, sawit sebagai bahan baku dapat diperbarui dan menghasilkan emisi lebih rendah. 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai biofuel sawit memiliki karakter lebih ramah lingkungan karena berasal dari sumber hayati yang mudah terurai dibandingkan bensin konvensional. 

Tak hanya itu, GAPKI juga menilai pengembangan bensin sawit menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor BBM. Organisasi ini mendorong agar program bensin sawit dapat dijalankan secara progresif sebagai bagian dari transisi energi nasional. 

Di level makro, pengembangan Bensa dinilai berpotensi memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah industri hilir sawit. Permintaan bahan baku yang meningkat juga membuka peluang bagi peningkatan kesejahteraan petani.

Namun demikian, jalan menuju komersialisasi masih penuh tantangan. Skala produksi Bensa saat ini masih terbatas pada tahap pilot project. Investasi untuk pembangunan kilang juga tergolong besar, sementara aspek regulasi dan standardisasi bahan bakar masih perlu disiapkan.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus mendorong pengembangan energi alternatif, termasuk biofuel generasi baru ini.

Jika hambatan tersebut dapat diatasi, Bensa berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam peta jalan energi nasional.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :