Berita / Bisnis /
CPO Indonesia Lolos Tarif Nol Persen ke AS, Bagaimana Dampaknya untuk Uni Eropa?
Jakarta, elaeis.co – Kebijakan Amerika Serikat yang menetapkan tarif nol persen untuk impor minyak sawit Indonesia membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk menata ulang jalur ekspor CPO nasional.
Keputusan ini memungkinkan pengiriman sawit langsung ke Amerika tanpa melalui perantara, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar Uni Eropa yang menerapkan aturan ketat EUDR.
Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Strategic Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), menjelaskan bahwa selama ini ekspor sawit ke AS dilakukan melalui dua jalur yaitu perdagangan langsung dari Indonesia, dan melalui negara-negara Uni Eropa.
“Sekitar 2 juta ton masuk langsung ke Amerika, sementara 3–4 juta ton lainnya melalui Eropa dengan aturan EUDR,” kata Dr. Tungkot saat dihubungi, Rabu (18/2).
Dengan tarif nol persen, Indonesia kini memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan negara Eropa yang masih dikenai tarif saat mengekspor ke AS.
Hal ini memungkinkan kebutuhan sawit Amerika dipasok langsung dari Indonesia, tanpa melalui jalur re-ekspor Eropa.
Tungkot menambahkan, Amerika tidak seketat Uni Eropa dalam isu lingkungan, sehingga fokus pasar lebih pada perdagangan dibandingkan emisi atau deforestasi.
Pasar AS dianggap strategis karena sebagian besar minyak sawit digunakan industri pangan. Sekitar 70 persen industri pangan Amerika menggunakan CPO, sementara kebutuhan biodiesel mereka dipenuhi dari minyak kedelai domestik.
Meski peluang ekspor ke Amerika terbuka lebar, Dr. Tungkot mengingatkan bahwa pengalihan jalur ini berpotensi memengaruhi ekspor ke kawasan lain, termasuk UE, Afrika, India, dan Cina.
Hal ini perlu diantisipasi dengan strategi pengelolaan pasar dan perbaikan sektor hulu, seperti hilirisasi.
Kebijakan tarif nol persen diterapkan melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART). Selama ini, ekspor CPO Indonesia ke AS mencapai sekitar 6 juta ton per tahun, namun hanya 2–2,5 juta ton yang dikirim langsung.
Sisanya diekspor lewat negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia.
Dengan adanya kebijakan ini, Indonesia berpotensi memperkuat pangsa pasar sawit global sekaligus meningkatkan keuntungan ekonomi nasional.
Namun, pemerintah dan pelaku industri sawit perlu menyiapkan strategi agar pengalihan ekspor tidak mengganggu pasar lama, terutama Uni Eropa, yang masih menjadi salah satu konsumen utama CPO Indonesia.







Komentar Via Facebook :