https://www.elaeis.co

Berita / Nusantara /

Cabe Jawa Tawarkan Penghasilan Tambahan Buat Petani Sawit

Cabe Jawa Tawarkan Penghasilan Tambahan Buat Petani Sawit

Cabe Jawa, rempah yang bisa dibudidayakan di sela tanaman sawit (tangkapan layar)


Medan, Elaeis.co -�Sudah banyak petani sawit yang mencoba mengintegrasikan kebun sawit dengan peternakan sapi atau kambing. Tapi tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena membutuhkan dana yang tidak sedikit, bahkan cenderung menyamai biaya pemeliharaan kebun sawit.

Ide lain untuk menambah penghasilan petani sawit pun bermunculan, diantaranya tumpang sari. Salah satu komoditi yang dinilai bisa dikembangkan di antara pohon sawit adalah cabe Jawa atau cabe jamu.

Founder PT Alam Nusantara Jaya Raya, Rr Nurul Mutmakinah, mengatakan, tanaman tersebut bisa dibudidayakan dengan modal yang relatif kecil dan pemeliharaannya tidak susah.

�Benih berkualitas harganya Rp 3000/kg, namun harga jualnya saat panen bisa mencapai Rp 100.000/kg,� katanya saat menjadi pembicara tunggal dalam webinar bertajuk "Pengembangan Cabe Jawa Berbasis Intercropping atau Tumpang sari untuk Perkebunan Kelapa Sawit" yang digelar oleh Gamal's Institute, Senin (28/6).

Menurutnya, cabe jamu juga bukan tanaman yang rewel. �Ditanam di lahan bebatuan pun cabe jamu akan tumbuh. Gak banyak membutuhkan air. Yang penting ada sinar matahari. Benar-benar tanaman yang tidak rewel,� katanya.

Wanita yang berdomili di Jogjakarta ini mengatakan ide budi daya cabe jamu ini berawal dari ketidaksengajaan. Dulunya cabe jamu hanya menjadi konsumsi di keluarganya, tidak dikomersialkan.

Nurul yang saat itu fokus menanam anggrek kedatangan beberapa teman dari Eropa. Saat berkeliling di kebun anggreknya, mereka melihat cabe jamu tersebut. Spontan Nurul menawarkan dan menghidangkan minuman berbahan cabe jamu. �Ternyata tamu-tamu saya suka. Dari situlah saya terus menjalankan budi daya cabe jamu,� ungkapnya.

Ia lalu mengajak teman-temannya di komunitas petani Indonesia patungan, lalu terbentuklah PT Alam Nusantara Jaya Raya. �Saya ditunjuk sebagai direkturnya, ditunjuk oleh para petani. Pemilik sahamnya dan para anggotanya, ya petani cabe jamu,� jelasnya.

Dia menambahkan, cabe jamu adalah tanaman rempah yang tergolong ke dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae dan masih sekeluarga dengan lada dan kemukus.

�Ingat, kolonialisme sejumlah bangsa Eropa ke Indonesia karena mereka ingin mendapatkan rempah-rempah. Saat ini Eropa butuh 300 ton cabe jamu per bulan. Kami cuma sanggup memenuhi 80 ton per bulan. Kami ajak bapak dan ibu untuk menanam cabe jamu agar tanaman ini enggak diambil bangsa lain. Tanaman cabe jamu ini bisa menjadi solusi bagi kita di saat pandemi Covid-19,� katanya.

Dia mendesak para petani sawit untuk memanfaatkan sisa lahan untuk ditanami cabe jamu. Begitu juga dengan petani lain atau ibu rumah tangga. �Ayo ibu-ibu, jangan hanya suaminya saja yang disuruh cari duit. Ibu-ibu pun bisa menghasilkan duit dari cabe jamu. Tanam saja di pot-pot kecil, tanam di teras rumah,� tukasnya.

Nurul berjanji akan membimbing seluruh peserta zoom jika benar-benar serius ingin bertani cabe jamu. Bimbingan itu akan diberikan gratis. �Bahkan kalau memungkinkan di tengah situasi pandemi, saya akan datang ke kelompok tani bapak dan ibu,� pungkasnya.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :