Berita / Nusantara /
Bisnis Oleokimia Makin Cerah, 5 Raksasa Sawit Bangun Pabrik Baru
Pabrik oleokimia. Foto: Sinar Mas Grup
Jakarta, elaeis.co - Permintaan terhadap fatty alcohols melonjak drastis. Kebutuhan bahan baku untuk produk perawatan pribadi, kebersihan rumah tangga, hingga industri plastik dan bahan intermediate lainnya, terus meningkat seiring tren gaya hidup bersih dan kesadaran konsumen pasca-pandemi.
Situasi ini menjadi momentum emas bagi para pemain besar sawit. Lima raksasa sawit, yakni Wilmar, Permata Hijau, Unilever, Apical, dan Sinar Mas Cepsa, mengambil langkah agresif dengan mulai membangun pabrik oleokimia baru di kawasan Asia yang kini menjadi pusat industri fatty alcohols dunia. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama hingga pertengahan 2025, dengan total kapasitas produksi gabungan sekitar 160 ribu ton per tahun.
Langkah ekspansi ini tak lepas dari proyeksi pertumbuhan konsumsi global. Data yang disampaikan oleh Eashani Chavda, Senior Editor Manager ICIS dalam rilis yang diterima elais.co menyebutkan bahwa produksi sawit dunia diperkirakan mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menekan pasokan fatty acids dan fatty alcohols, menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan.
“Pasokan yang seret membuat harga fatty alcohols, terutama di Eropa, terus merangkak naik. Ini peluang besar, tapi hanya bagi mereka yang siap secara kapasitas,” ujarnya.
Di pasar Eropa, kondisi ini sudah terasa sejak 2024. Volume distribusi fatty alcohols asal Indonesia terus menurun, digantikan oleh pasokan dari Malaysia dan Amerika Serikat yang meningkat signifikan.
Antara Januari hingga November 2024, impor palm oleic ke Uni Eropa naik sekitar 30% namun volume dari Indonesia justru merosot tajam. Malaysia mengambil alih dengan peningkatan pasokan hingga 51%, dan bahkan menguasai 92% impor asam stearat berbasis sawit.
Meski Indonesia masih menjadi produsen sawit terbesar dunia, dominasi itu tidak otomatis menjamin posisi kuat di hilir. Dibutuhkan strategi hilirisasi yang terukur agar Indonesia tidak mentok menjadi penyedia bahan baku sawit sementara nilai tambahnya dinikmati negara lain.







Komentar Via Facebook :