https://www.elaeis.co

Berita / Sumatera /

Banjir Bawa Masalah Baru Bagi Petani Sawit

Banjir Bawa Masalah Baru Bagi Petani Sawit

Kebun sawit warga Bengkulu terendam banjir. foto: Ist.


Bengkulu, elaeis.co - Hujan yang melanda Bengkulu beberapa hari terakhir telah menyebabkan sejumlah perkebunan kelapa sawit terendam air. Akibatnya petani kesulitan untuk memupuk sawit.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bengkulu, Bando Amin mengatakan, permasalahan yang dihadapi petani kelapa sawit di Bengkulu tidak hanya permasalahan mahalnya harga pupuk, namun petani juga dihadapkan permasalahan kesulitan melakukan pemupukan pada musim hujan.

"Karena kebun kelapa sawit mereka terendam banjir,  terpaksa menunda sampai musim hujan berlalu," kata Bando, kemarin.

Menurut Bando, tidak hanya menyebabkan penundaan pemberian pupuk, musim hujan juga akan berpengaruh terhadap pencucian tanah. Di mana tanah yang terus terendam air akan menjadi asam atau pH tanah menjadi rendah.

"Pada umumnya makin banyak curah hujan maka keasaman tanah makin tinggi atau pH tanah makin rendah, karena banyak unsur-unsur logam alkali tanah yang tercuci misalnya, Na, Ca, Mg, dan K," tuturnya.

Selain itu, curah hujan yang tinggi menyebabkan pencucian hasil-hasil mineralisasi terutama kation-kation basa (Ca, Mg, K, Na) yang mengakibatkan tanah akan dipenuhi oleh ion H+ dan Al+++. Dan sebaliknya makin rendah curah hujan maka makin rendah tingkat keasaman tanah dan makin tinggi pH tanah.

"Makin lembab tanah maka makin jelek aerasinya dan juga sebaliknya, hal ini disebabkan karena adanya pergantian antara air dan udara dalam tanah," ungkapnya.

Selain itu, makin tinggi curah hujan dan makin intensif penggunaan lahan pertanian, maka makin besar kemungkinan berkembangnya tanah-tanah asam. Kemudian tercucinya kation-kation basa dari tanah menyebabkan kation-kation H+ dan Al3+ menjadi dominan, sehingga tanah menjadi masam.

"Untuk mengatasi permasalahan tersebut tentu saja petani harus mengeluarkan biaya lagi di luar pupuk, yakni harus menyediakan kapur untuk menetralkan tanah yang asam," tuturnya.

Ia mengaku, petani harus mendatangkan jumlah kapur pertanian yang cukup banyak untuk menaikan pH dari pH tidak ideal/asam menjadi normal. Cara yang paling sederhana dalam menentukan kebutuhan kapur pertanian ialah dengan menghitung selisih antara pH tanah yang dituju dengan pH tanah aktual (pH tanah berdasarkan hasil pengujian dan analisis) dikali 2.000 kg kapur pertanian perhektar. Untuk menaikan 1 point pH tanah diperlukan 2.000 kg kapur pertanian.

"Oleh sebab itu, saya menyarankan petani kelapa sawit agar menanam sawit tidak di lahan gambut atau rawa. Sebab di lahan seperti itu tanaman kelapa sawit akan selalu terendam air kalau hujan dan menyebabkan petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menetralkan tanahnya," tutupnya.
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :