Berita / Bisnis /
4000 Ekor Induk Sapi dan Kerbau di Riau Ditarget Masuk Asuransi
4000 Ekor Induk Sapi dan Kerbau di Riau Ditarget Masuk Asuransi
Pekanbaru, Elaeis.co - Perlindungan, keamanan dan kenyamanan dalam usaha khususnya berternak sapi dan kerbau, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Distanak) Provinsi Riau hadirkan program asuransi yang juga merupakan dukungan pemerintah. Sepanjang 2021 ini, Distanak Riau targetkan 4000 ekor sapi indukan mendapatkan jaminan asuransi tersebut.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau Drh, Rahmat Setiyawan kepada Elaeis.co menjelaskan asuransi tersebut dilaksanakan oleh Jasindo Agri. Program ini dimunculkan untuk memberikan keamanan bagi para peternak dalam menjalankan usahanya.
"Sejatinya, program asuransi sapi dan kerbau ini hadir di Riau sejak 2017 lalu. Dimana dikhususkan untuk Pi dan kerbau indukan (betina)," katanya Senin (9/8).
Ia menjelaskan, hingga 2020 tercatat sudah ada 1.878 ekor sapi dan kerbau program pemerintah yang sudah tergabung dalam program asuransi ini. Jumlah ini belum termasuk ternak yang mengikuti secara mandiri atau swadaya.
"Banyak keuntungannya, jadi petani dapat melindungi ternaknya dari ancam resiko seperti kematia sapi karena penyakit, kecelakaan, kehilangan akibat pencurian, maupun kematian akibat beranak," tutur Rahmat.
Untuk mengikuti ini, peternak hanya dikenakan premi sebesar Rp.200 ribuan setiap tahunnya. "Namun ada syarat yang harus diikuti pernak untuk mendaftarkan ternaknya ini. Salah satunya yakni dalam Sistem Informasi Kesehatan Hewan NAsional (Isikhnas) ternak harus berusia di atas 1 tahun," terangnya.
Untuk diketahui, populasi sapi di Riau saat ini tercatat mengalami peningkatan. Dibandingkan 2019, jumlah hewan ternak sapi di Riau meningkat sebesar 6.143 ekor.
Pada 2020 tercatat jumlah total hewan ternak sapi mencapai 204.433 ekor. Sedangkan pada 2019 jumlahnya hanya 198.290 ekor.
Menurut Rahmat, pertumbuhan populasi sapi dipengaruhi adanya kelahiran dan pemasukan. Ada juga faktor kematian, pengeluaran serta pemotongan ternak.
Dirincikannya, jumlah populasi sapi terbesar di wilayah Riau saat ini berada pada kabupaten Indragiri hulu. Dimana pada 2020 jumlahnya sudah mencapai 37.370 ekor. Kemudian disusul wilayah Kampar sebanyak 28.461 ekor dan kabupaten Siak sebanyak 25.886 ekor sapi.
Selanjutnya, untuk wilayah Kuantan Singingi sebanyak 25.355 ekor sapi, wilayah Rokan Hulu sebanyak 22.513, Rokan Hilir 16.823, Bengkalis 16.673, Pelalawan 12.248, Inhil 6.652, Dumai 5.242, Pekanbaru 3.806 dan Meranti 3.764 ekor sapi.
Rahmat menjelaskan tumbuhnya jumlah populasi sapi tadi tentu berkaitan dengan tingginya potensi bisnis beternak sapi. Terlebih saat ini banyak petani yang tengah mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). "Ini bisa jadi sumber penghasila alternatif bagi petani sawit. Sehingga mendukung permintaan daging yang cukup tinggi saat ini," tuturnya.
Tak hanya disitu, tumbuhnya ternak sapi juga memiliki dampak lain selain sebagai ekonomi alternatif para petani. Seperti misalnya ketersediaan pupuk organik yang mendukung petani sawit saat mengembangkan tanaman sela di lahan sawit miliknya.
Bukan hanya tanaman sela saja, dampak pupuk organik juga berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Sehingga jika tanaman sawit telah masuk dalam tanaman buah menghasilkan (TBM) otomatis tanah sudah dalam kondisi subur.
"Malah hasil survei mengatakan, penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan bibit tandan buah segar (TBS) hingga 35 persen. Misalnya panen dapat 10 ton bisa meningkat sampai 13 ton," katanya.
"Kita memang tidak memiliki lahan, namun kita mendukung kawasan perkebunan dan pertanian berkelanjutan," imbuhnya.

Komentar Via Facebook :