Berdasarkan berbagai proyeksi iklim, El Nino 2026 diperkirakan berada pada kategori kuat dengan dampak paling terasa pada periode Oktober hingga Desember. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku industri sawit karena dapat memengaruhi produktivitas kebun di berbagai sentra produksi.
Meski demikian, dari sisi pasar modal kondisi tersebut justru dinilai membuka peluang bagi emiten perkebunan. Kenaikan harga jual CPO diperkirakan mampu mengompensasi penurunan volume produksi sehingga margin keuntungan perusahaan berpotensi tetap meningkat.
Selain prospek fundamental yang dinilai positif, Imam melihat valuasi saham-saham sektor perkebunan saat ini masih cukup menarik. Harga saham emiten sawit dinilai belum mencerminkan potensi kenaikan kinerja apabila harga CPO benar-benar menguat dalam beberapa bulan ke depan.
Karena itu, PT Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan. Rekomendasi tersebut berarti investor disarankan memberikan porsi investasi yang lebih besar pada saham-saham perkebunan dibandingkan bobot sektor tersebut di pasar secara keseluruhan.
"Price action-nya juga masih memiliki risk to reward ratio yang cukup menarik. Jadi sangat menarik untuk diakumulasi secara perlahan dan kami memberikan rating overweight untuk sektor plantation," kata Imam.
Prospek positif tersebut membuat sektor perkebunan diperkirakan menjadi salah satu sektor yang paling banyak dilirik investor pada semester kedua 2026. Jika harga CPO terus menguat seiring dampak El Nino dan meningkatnya permintaan biodiesel, emiten sawit berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih solid hingga awal 2027.
Analis Ramal Emiten CPO Raup Cuan Saat El Nino, Investor Mulai Berburu
Diskusi pembaca untuk berita ini