Jakarta, elaeis.co – Fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027 dinilai membawa peluang besar bagi emiten perkebunan kelapa sawit.
Di tengah potensi penurunan produksi akibat musim kemarau panjang, harga crude palm oil (CPO) diproyeksikan menguat sehingga berpotensi mendongkrak kinerja perusahaan sawit di bursa.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan sektor perkebunan menjadi salah satu sektor yang paling menarik untuk dicermati investor pada paruh kedua 2026.
Menurutnya, kombinasi El Nino dan implementasi mandatori biodiesel B50 menjadi katalis positif bagi harga CPO.
"Nah ada salah satu sektor yang sebenarnya menarik untuk kita perhatikan, yaitu sektor plantation atau sektor perkebunan. Kenapa sektor perkebunan ini menarik? Karena sejak pertengahan 2026 hingga awal 2027 diperkirakan sedang berlangsung fenomena El Nino," ujar Imam, Senin (20/7).
El Nino merupakan fenomena iklim yang menyebabkan curah hujan berada di bawah normal sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Kondisi tersebut biasanya berdampak pada menurunnya produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit akibat berkurangnya ketersediaan air.
Penurunan produksi TBS diperkirakan mengurangi pasokan bahan baku minyak sawit di pasar. Ketika pasokan menyusut sementara permintaan tetap tinggi, harga CPO berpotensi mengalami kenaikan yang pada akhirnya menguntungkan perusahaan perkebunan.
Menurut Imam, peluang kenaikan harga CPO semakin besar karena kebutuhan minyak sawit domestik juga meningkat setelah pemerintah mulai menerapkan program mandatori biodiesel B50.
"Nah ini biasanya ketika terjadi fenomena El Nino, produksi tandan buah segar relatif mengalami penurunan. Hal itu akan berpengaruh terhadap harga CPO yang akan naik, terlebih didukung juga oleh program biodiesel pemerintah yaitu B50," jelasnya.
Analis Ramal Emiten CPO Raup Cuan Saat El Nino, Investor Mulai Berburu
Diskusi pembaca untuk berita ini