https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Jenggi /

U-distopia (4)

U-distopia (4)

ilustrasi. foto: fixabay.com


Tak perlu payah-payah untuk memahami cara kerja algoritma pada robot pintar AI, manusia sejak bayi sudah dipimpin oleh algoritma, sama seperti kucing atau trenggiling. 

Yang menjadi beda adalah, algoritma manusia akan diinterupsi oleh kesadarannya sendiri sebagai inti dari kemanusiaan.

Kesadaran (consciousness) juga adalah kunci emas bagi penganut eksistensialisme, seperti dalam sabda Sartre: l'existence précède l'essence, eksistensi mendahului esensi. 

Apakah akan tampak buru-buru jika saya memintas ide tersebut, menjadi bahwa eksistensi adalah kesadaran dan esensi adalah algoritma.

Baca juga: U-distopia (1)

Algoritma pada siklus hidup seekor kucing dapat dideteksi secara kasat mata. Dari bayi dan menyusu, menggaruk telinga, bergelut, mengais untuk menimbun kotoran, suara-suara mabuk kepayang memasuki musim kawin, beranak pinak, menyusui dan memindahkan bayi kucing dengan cara menggigit tengkuknya tanpa terluka dan seterusnya.

Dan itu terjadi sama untuk setiap kucing. Hal yang sama juga berlaku untuk seekor ulat yang menjadi kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu secara otomatis, tanpa perlu menunggu perintah dari kepala suku ulat, jika ada.

Algoritma pada kucing dan ulat nangka berlaku konstan dengan periode yang rigid, karena tidak ada interupsi dari pikiran. 

Belum pernah terdengar kabar, seekor ulat melarikan diri dari takdirnya untuk menghindari proses menjadi kepompong yang menyakitkan itu.

Apakah pikiran manusia dan horizon peristiwa yang mengitarinya adalah bagian dari kehendak bebas (free will)? Faktanya, hari ini kecerdasan buatan dapat mengambil alih kehendak bebas untuk menentukan keputusan terbaik, dengan hanya mengerkah (crunching) algoritma kita.

Baca juga: U-distopia (2)

Apakah manusia telah menginterupsi algoritmanya? Saya akan menjawabnya pada babak yang lain. Mari kita tinjau cara otak kucing bekerja. 

Lalu apa yang kemudian membedakan antara seekor kucing garong dengan Albert Einstein atau Pierre Simon Laplace? 

Kucing bisa melihat fakta dan peristiwa, tapi kucing tidak bisa menghubungkan fakta-fakta atau premis untuk menciptakan konklusi. 

Mesin silogisme pada otak kucing tidak bekerja. Kucing akan ditolak di forum diskusi manapun, kucing gagal menjadi seorang filosof, tepatnya seekor filosof.

Sebab sesuatu dapat menjadi pikiran ilmiah ketika ia melewati dual test, yakni logika deduktif, dan induktif. 

Kucing memiliki sebelah sayap pikiran yang tidak sempurna. Kucing bisa menggunakan nalar induktifnya untuk menyimpulkan fakta-fakta. 

Baca juga: U-distopia (3)

Bila kita memberi kucing makan pada jam sekian secara berturut-turut, kucing akan percaya bahwa kita akan memberikannya makanan berikutnya pada jam tersebut.

Intan dan grafit atau anak pensil, keduanya terbentuk hanya dari satu unsur yaitu karbon. Tapi beda keduanya seperti bumi dan langit, hanya karena susunan atom yang membentuknya. 

Cara kerja otak kucing dan ilmuan empirisme adalah sama, mereka mengandalkan logika induktif. Yang satu berlian, dan lainnya adalah arang.

Mari segera kita memisahkan diri antara makhluk biologi dan buatan. Untuk sementara kita satu frame saja dengan kucing. 

Manusia dan hewan memiliki satu anugerah berupa insting yang tidak dimiliki oleh robot Shopia, meskipun Shopia memiliki kesadaran artifisial dan ciri humanoid yang sempurna. 

Manusia bahkan dilengkapi dengan firasat, intuisi, dan prediksi dan kekuatan supranatural.

Pertanyaannya kemudian, dengan cara apa manusia dapat menajamkan semua senjata tersebut ketika robot-robot humanoid telah berlari secepat bajingan, dengan prediksi dan keputusan-keputusan yang selalu valid, hanya dengan pengandalan pengolahan data dengan metode deep learning.     

Ketika para ilmuan futurisme secara tidak berkedip telah membuang semua insting, intuisi, firasat, dan potensi-potensi metahuman yang tertanam dalam diri anak-anak Adam itu ke dalam bak sampah igauan metafisika belaka. (Bersambung)

Muhammad Natsir Tahar
Komentar Via Facebook :