https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Jenggi /

U-distopia (3)

U-distopia (3)

ilustrasi. foto:fixabay.com


Manusia-manusia posmo hampir lepas sepenuhnya dari retorika isme-isme dan dogma yang menjanjikan utopia. Ketika dunia sedang memasuki era post-truth untuk menyempurnakan libido purbawi kepada pemenuhan ego, otoratianisme, supremasi kekuasaan dan dinasti politik, wajah penuh harap itu kemudian dipalingkan kepada AI Governance System.

Ini adalah sebuah sistem pemerintahan global dalam kesetaraan dan pemenuhan kebutuhan serta fantasi manusia tanpa kecuali. Sebuah sistem yang dibantu oleh mesin pembelajar akan memetakan seluruh kebutuhan dan angan-angan manusia.

Usai Society 4.0 menjadi sempurna, manusia lekas-lekas memasuki Society 5.0 ketika tubuh biologis yang memuat biotech menyatu dengan algoritma big data (infotech)

Ini akan menjadi singularitas teknologi dengan ledakan kecerdasan yang amat sulit diprediksi, dan tentu saja: tanpa batas. Sebab para robot akan melipatgandakan kecerdasan mereka melalui deep learning detik per detik.

Baca juga: U-distopia (1)

Fenomena ini dapat didorong secara masif, ketika AI Governance System telah mengambil alih pekerjaan banal para politisi dalam mengurus tiap-tiap negara yang ada di muka bumi. 

Titik lemah manusia seperti human error, distorsi moral, keterbatasan fisik, kerentanan terhadap wabah dan peretasan pikiran, menjadi faktor pendorong agar segala urusan segera diserahkan kepada kecerdasan mesin-mesin yang sudah dikunci untuk tunduk kepada pelayanan kemanusiaan.

Apa yang menjadi kegelisahan global seperti kelangkaan pangan akan disambut oleh bioteknologi, sistem korup akan dituntaskan oleh blockchain, dan keputusan-keputusan penting akan diambil alih oleh kecerdasan buatan tanpa cela. Penyakit dan proses penuaan akan disudahi oleh teknologi nano dan regenerasi sel.

Kitab-kitab yang bercerita tentang surga seperti disalin seluruhnya oleh masa depan. Tanpa kelaparan, kelangkaan, kecemasan, ketidakpastian, pemborosan, yang kemudian disempurnakan dengan keabadian dan tanpa proses penuaan. Manusia menulis ulang kehidupan mereka mulai alfa hingga omega.

Tapi jika demikian adanya, apakah semua akan final? Apakah manusia akan nyaman-nyaman saja ketika hasrat mereka dapat diraih semudah kedipan mata? Tidak. 

Manusia tidak lahir dengan hasrat komedi. Jika diminta memilih antara tragedi dan komedi, secara otomatis manusia akan memilih komedi. Tapi tidak akan sesederhana itu.

Baca juga: U-distopia (2)

Tragedi dan komedi adalah dua tema besar nan dikotomis di atas kanvas kehidupan kita. Filsafat Barat memihak tragedi sebagai inti kewaskitaan dan faktanya entah apa sebab, manusia selalu ingin menjadi bagian dari tragedi. 

Sementara sejarah dunia abad demi abad ditulis dengan tinta emas untuk menyepuh merah darah tragedi.
Filsafat Barat meninggikan tragedi dari komedi. 

Tapi Filsafat Timur seperti Buddhisme atau Zen menihilkannya: melepaskan diri dari ketergantungan pada tragedi dan komedi. 

Untuk membedakan Filsafat Timur dengan Nihilisme Nietzsche adalah penyangkalan Nietzsche terhadap adanya tujuan final dari kehidupan, serta pemusnahannya terhadap semua aspek dogma-metafisis, sehingga hampir tanpa persamaan.

Pahlawan ditarik oleh sejarah dari medan perang dan duka lara. Nabi-nabi dan orang suci berada dalam skenario pengancaman, pengkhianatan, pembunuhan, dan penghinaan. Sejarah tidak menulis orang-orang konyol, maka sejarah mungkin tidak menulis komedi.

Secara etimologis, tragedi berangkat dari kata Yunani tragoidia, terbagi dari kata tragos, artinya kambing dan aeidein yang berarti nyanyian. Menggambarkan nyanyian yang mengiringi nasib seekor kambing yang dikorbankan pada acara ritual dalam budaya Yunani kuno.

Tragedi melambangkan keseriusan seorang tokoh berkarakter protagonis, yang berupaya untuk menelaah pertanyaan-pertanyaan eksistensial manusia. Tragedi ditujukan untuk memicu kartarsis (penyucian) dengan respon paradoks.

Sedangkan komedi berasal dari bahasa Yunani komoida, berarti suatu karya lucu yang semata bertujuan untuk menghibur dan menimbulkan gelak tawa.

Dalam Poetics, Aristoteles menyebut tragedi sebagai kebaikan dan kehormatan sedangkan komedi sebagai sesuatu yang inferior dan hina dina.

Lalu apakah bila kita mencapai surga (utopia), kita telah sepenuhnya masuk ke dalam fase dungu. Karena kebijaksanaan dan kecerdasan macam apa yang kemudian muncul dari limpahan dan timbunan fantasi, libido dan kemanjaan-kemanjaan superfisial itu? Nol besar!

Manusia akan menjadi komedi, baik sebagai penikmat dan komedi itu sendiri. Jika kemudian ada sejarah setelah ini, apakah sejarah akan menulis orang-orang konyol lagi hina dina (meminjam Aristoteles)  yang sepanjang hari terbahak-bahak dalam samudra super hedonis? (Bersambung)


 

Muhammad Natsir Tahar
Komentar Via Facebook :