Berita / Serba-Serbi /
Tingkatkan Wawasan dalam Pengelolaan Limbah sawit, Aspek-Pir Taja Pelatihan Pengelolaan Limbah Sawit Berkelanjutan
Sekjend Aspek-Pir, Syarifuddin Sirait.(Ist)
Rantauprapat, elaeis.co – Pelatihan teori dan praktik pengelolaan limbah kelapa sawit yang berkelanjutan digelar Aspek-Pir di Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kamis (9/4). Kegiatan yang didukung oleh Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) ini bertujuan sebagai langkah penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola limbah sawit secara ramah lingkungan.
Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada berbagai inovasi berbasis limbah sawit, seperti biochar, sistem integrasi sapi-kelapa sawit (SISKA), serta pemanfaatan biomassa sawit sebagai pakan ternak.
Sekretaris Jenderal Aspek-Pir, Syarifuddin Sirait menjelaskan inovasi-inovasi tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi di sektor perkebunan sawit. Dimana peserta mendapatkan pemahaman bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi biochar yang berfungsi memperbaiki sifat fisik tanah, termasuk tekstur dan struktur tanah. Bahkan, penggunaan biochar disebut mampu mengurangi hingga 50 persen ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain itu, pelepah sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi, sehingga dapat mengurangi penggunaan rumput hijau.
“Pemanfaatan limbah sawit ini tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya produksi, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani sawit, khususnya di Sumatera Utara,” ujar pria yang juga merupakan Ketua Aspek-Pir Sumut kepada elaeis.co, Kamis (9/4).
Pada gelaran ini, pihanya menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dari Dinas Perkebunan Sumatera Utara dan Labuhanbatu, serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Kegiatan juga dilengkapi dengan praktik langsung di lapangan untuk memperkuat pemahaman peserta.
Bukan hanya pelatihan, dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan berbagai produk turunan sawit yang telah dikembangkan oleh anggota dan binaan Aspek-PIR. Misalnya gula sawit, kerajinan lidi dari Asahan, biochar dari Siak, hingga produk kosmetik, sabun mandi, dan ekspor lidi sawit.
"Saat ini, kelembagaan binaan Aspek-PIR di Sumatera Utara telah mencakup 38 koperasi yang tersebar di 12 kabupaten. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan upaya konsolidasi kelembagaan petani sawit di wilayah tersebut," cerita Syarifuddin
Sementara dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, pihaknya mengajak seluruh pihak untuk terus komitmen bekerja sama.
"Kita berharap peserta mengikuti pelatihan dengan serius agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di daerah masing-masing," tekannya.
Ia berharap melalui pelatihan ini, para petani dapat mengembangkan praktik pengelolaan limbah sawit yang lebih baik, inovatif, dan berkelanjutan.









Komentar Via Facebook :