Berita / Nasional /
Ternak di Kebun Sawit Bukan Biang Kerok Ganoderma, Ini Penjelasan Ahli
Ilustrasi - Batang sawit tumbang diduga menjadi penyebab utama penyebaran jamur Ganoderma.
Jakarta, elaeis.co - Isu soal penyebaran penyakit pada kelapa sawit kembali jadi sorotan. Kali ini, anggapan bahwa ternak di area perkebunan menjadi penyebab utama penyebaran jamur Ganoderma dibantah oleh pakar.
Dalam forum 3rd Integrated Cattle and Oil Palm Conference (ICOP), Prof Maja Slingerland dari Wageningen University & Research menegaskan bahwa Ganoderma menyebar terutama melalui spora yang jumlahnya sangat besar di lingkungan alami, bukan karena aktivitas ternak atau manusia di kebun.
Ia menjelaskan, satu tubuh buah jamur Ganoderma mampu menghasilkan hingga sekitar 40.000 spora per menit per sentimeter persegi. Dalam satu hari, jumlahnya bisa mencapai miliaran spora yang kemudian tersebar lewat udara di sekitar perkebunan.
“Dengan jumlah spora yang sangat besar tersebut, sulit menyimpulkan bahwa pergerakan ternak atau manusia menjadi faktor utama penyebaran penyakit,” jelasnya dalam sesi diskusi di acara Integrated Cattle and Oil Palm Conference tersebut.
Menurutnya, spora Ganoderma memang sudah ada secara alami di berbagai titik lingkungan kebun. Karena itu, keberadaan sapi atau ternak yang melintas di area perkebunan tidak serta-merta meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Lebih lanjut, Prof. Slingerland menekankan bahwa fokus pengendalian seharusnya tidak terjebak pada dugaan yang kurang tepat. Ia menilai ada faktor lain yang lebih relevan, seperti kondisi akar tanaman atau adanya luka pada jaringan tanaman yang bisa menjadi pintu masuk infeksi.
“Kita perlu melihat kemungkinan adanya kerusakan akar atau titik masuk infeksi. Itu jauh lebih relevan dibandingkan menyalahkan mobilitas ternak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendekatan berbasis data dan ilmiah dalam menghadapi ancaman Ganoderma.
Mulai dari sanitasi kebun, pemantauan kesehatan tanaman, hingga riset lanjutan terkait mekanisme infeksi perlu terus diperkuat.
Dengan pemahaman yang lebih tepat, industri sawit diharapkan tidak lagi terjebak pada asumsi yang keliru, melainkan bergerak pada strategi pengendalian yang lebih efektif dan terukur.









Komentar Via Facebook :