Komunitas 
Petani Sawit

Soal PSR, Asosiasi Ini Tak Mau Berpangku Tangan

Soal PSR, Asosiasi Ini Tak Mau Berpangku Tangan
Ketua DPD I Aspek-PIR Sumut, Syarifuddin Sirait. (Foto: Hendrik)

Medan, elaeis.co - Pelaksanaan program peremajaan sawit rakyat (PSR) di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Utara, diakui tidak pernah bisa memenuhi ekspektasi.

Target yang telah ditetapkan oleh badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit (BPDPKS) tidak pernah bisa direalisasikan 100 persen.

Selalu saja ada banyak kendala yang membuat target itu tak bisa dipenuhi.

"Namun kami dari DPD I Aspek-PIR Sumut tidak tinggal diam. Kami telah melakukan berbagai upaya guna memajukan petani kelapa sawit, baik plasma maupun swadaya, termasuk dalam program PSR ini," kata kata Syarifuddin Sirait.

Pria berusia 50 tahun ini adalah Ketua DPD I Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspek-PIR) Sumut.

Hal itu ia katakan saat membuka acara "Pertemuan Teknis Percepatan dan Pemetaan PSR di Sumatera Utara" yang digelar di Hotel Madani Jalan Sisingamnagraja, Medan, Kamis (2/6/2022) pagi.,

Kegiatan itu diikuti oleh puluhan petani sawit anggota dari 10 cabang Aspek-PIR di Sumut, Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut Timbas Prasad Tarigan, dan Manager Plantations PT Bakrie Sumatera Plantatiion (BSP) Harris Nasution,

Kegiatan ini juga menampilkan sejumlah pembicara yang hadir secara daring maupun luring (online dan offline). Yang hadir secara luring yakni Kepala Dinas Perkebunan Sumut Lies Handayani Siregar, Ketua Harian DPP Aspek-PIR Juwita Yandi, dan anggota DPRD Sumut Zera Salim Ritonga, dan lainnya.

Ketua Koperasi Petani Kelapa Sawit (KPKS) Kesepakatan Ambar, Desa Gotting Sidodadi, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kabupaten Asahan ini menyebutkan ada sejumlah langkah krusial yang telah dilakukan Aspek-PIR Sumut.

Seperti menggandeng dan membangun komunikasi intensif dengan Dinas Perkebunan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, membentuk dan memperkuat kelembagaan petani sawit seperti dalam bentuk kelompok tani atau gabungan kelompok tani (Poktan/Gapoktan), atau pun dalam wadah koperasi.

"Kami juga melakukan banyak edukasi kepada petani sawit, terutama tentang arti pentingnya program PSR bagi peningkatan kualitas perkebunan sawit rakyat," kata Syarifuddin.

Pihaknya juga mendorong dan  mendukung semua lembaga petani sawit, bai swadaya maupun plasma, yang telah dibentuk untuk membangun pola kemitraan dengan pengusaha sawit.

Sebab hanya dengan sistem kemitraan lah para petani sawit bisa lebih memahami betapa pentingnya teknis budidaya sawit yag baik, sekaligus meninggalkan sistem bercocok tanam yang konvensional," tegas Syarifuddin Sirait.

Editor: Hendrik Hutabarat